Konflik Timur Tengah Picu Krisis Energi, Indonesia Waspada

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dikhawatirkan memicu krisis energi global, memberikan dampak besar pada Indonesia. Pada Jumat (10/4/2026), PBNU mengingatkan bahwa gangguan pada jalur distribusi energi merupakan ancaman nyata yang perlu diwaspadai, terutama terkait dengan suplai minyak dunia.

Krisis minyak dan ketidakstabilan ekonomi global dinilai akan semakin memburuk bila konflik berkepanjangan. Menurut PBNU, beberapa negara telah merasakan dampak terganggunya pasokan energi.

Kawasan Timur Tengah memainkan peran strategis dalam penyediaan energi global. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengatakan bahwa setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut akan berdampak langsung pada banyak negara.

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital distribusi minyak dunia. Eskalasi konflik akan meningkatkan risiko gangguan pada distribusi energi, yang dapat memicu kenaikan harga dan ketidakstabilan ekonomi, seperti dilansir dari Cahaya.

PBNU menekankan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung. Beberapa negara telah mengalami tekanan serius akibat terganggunya pasokan energi, seperti Pakistan dan Filipina, yang dilaporkan mengalami kekurangan cadangan minyak.

PBNU mendorong penguatan ketahanan nasional, terutama di tingkat masyarakat. Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa gotong royong yang menjadi tradisi Indonesia, dapat menjadi kekuatan utama dalam menghadapi krisis.

PBNU juga menginisiasi langkah penguatan ketahanan sosial masyarakat. Upaya perdamaian dan dialog diplomatik menjadi solusi utama untuk meredakan krisis.

"Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang dan kekerasan di mana saja, apapun alasannya, itu adalah bencana kemanusiaan yang harus kita cegah dan harus kita upayakan dihentikannya sesegera mungkin," kata Yahya Cholil Staquf.