KPAI Soroti Nasib Anak dari Korban Tewas Kecelakaan Kereta

Sedang Trending 1 jam yang lalu

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia menyoroti dampak jangka panjang tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Khususnya terhadap anak-anak yang kehilangan ibu dan tulang punggung keluarga. KPAI menyatakan perhatian tidak boleh berhenti pada penanganan korban, tetapi harus menjangkau masa depan keluarga yang ditinggalkan, termasuk anak.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dalam peristiwa yang melibatkan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line menuju Cikarang dan KA Argo Bromo itu, tercatat 15 orang meninggal. Seluruh korban yang tewas dalam tragedi itu adalah perempuan dewasa. Selain itu, terdapat puluhan korban luka-luka.

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menyebut angka tersebut menyimpan dampak sosial yang jauh lebih besar dari sekadar data korban. “Mereka bukan sekadar penumpang; bisa jadi tulang punggung keluarga, ibu bagi anak-anaknya, dan harapan masa depan keluarga,” kata Jasra dalam keterangan tertulis pada Selasa, 28 April 2026.

Ia mencontohkan kisah dari salah satu korban tewas, Nuryati, yang meninggalkan anak kembar. Dalam kasus lain yang beredar di media sosial, seorang perempuan dilaporkan menjadi korban setelah baru kembali bekerja usai cuti melahirkan. Jika informasi itu terkonfirmasi, KPAI menilai ada bayi yang harus menghadapi kehilangan sejak dini.

Menurut Jasra, kehilangan mendadak seperti ini berpotensi memicu dampak psikologis berkepanjangan, baik bagi anak-anak maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu, korban luka juga menghadapi tantangan pemulihan fisik dan trauma, yang dapat berdampak pada kemampuan bekerja dan kondisi ekonomi keluarga.

“Kehilangan kemampuan bekerja secara tiba-tiba dan keharusan menjalani perawatan panjang tentu akan membebani keluarga, baik secara ekonomi maupun psikologis,” ujarnya.

KPAI mendorong pemerintah dan berbagai pihak segera mengambil langkah konkret, mulai dari jaminan pengobatan, perlindungan sosial, hingga pendampingan psikologis jangka panjang bagi korban dan keluarga. Lembaga ini juga meminta perusahaan tempat korban bekerja memberikan kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan, seperti cuti pemulihan, dukungan materiil, dan pemenuhan hak ketenagakerjaan.

Lebih jauh, KPAI menilai tragedi ini perlu direspons dengan asesmen menyeluruh untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat dalam pendataan dan penanganan. “Peran perempuan dalam keluarga sering kali tak tergantikan. Kehilangan ini akan membawa duka panjang. Semua pihak perlu bergandengan tangan agar anak-anak korban tidak kehilangan masa depan,” kata Jasra.