Krisis Energi Timur Tengah Hambat Adopsi LNG di Kawasan Asia

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Gejolak geopolitik di Timur Tengah memicu krisis energi yang mengancam reputasi gas alam cair (LNG) sebagai bahan bakar terjangkau bagi negara-negara berkembang di Asia pada Jumat, 17 April 2026. Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas ekspor Qatar menyebabkan harga melonjak hingga 50 persen dibandingkan bulan Februari.

Kondisi ini memaksa sejumlah negara seperti India, Vietnam, dan Filipina meninjau ulang strategi energi mereka untuk beralih dari batu bara, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Pasokan global yang semula diprediksi melimpah kini justru menyusut akibat gangguan logistik dan teknis pada infrastruktur utama di Timur Tengah.

Masanori Odaka, seorang analis di Rystad Energy, menilai situasi ini akan berdampak pada pola permintaan energi secara jangka panjang jika terus berlanjut.

"Setiap hari hal ini berlanjut, harga naik, pasar makin ketat, dan terjadi penurunan permintaan," kata Masanori Odaka, seorang analis di Rystad Energy.

Ketegangan pasar yang berkepanjangan dikhawatirkan akan mengubah struktur pasar energi di kawasan yang sebelumnya diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan permintaan LNG dunia.

"Makin lama ini berlangsung, makin struktural dampaknya," kata Masanori Odaka, seorang analis di Rystad Energy.

Peneliti di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, Anne-Sophie Corbeau, menyoroti kendala biaya yang dihadapi importir di Asia Tenggara.

"Di banyak negara Asia Tenggara, pasokan telah dipangkas dan LNG alternatif menjadi terlalu mahal untuk digantikan sepenuhnya," kata Anne-Sophie Corbeau, seorang peneliti di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia.

Fenomena mahalnya harga gas impor ini diprediksi akan mengubah peta investasi energi di masa depan, dengan kecenderungan beralih ke energi terbarukan atau tetap mempertahankan penggunaan batu bara.

"Hal itu akan menyebabkan kawasan tersebut “berinvestasi lebih sedikit dalam pertumbuhan permintaan LNG pada masa depan,” lebih fokus pada energi terbarukan dan mempertahankan batu bara," katanya Anne-Sophie Corbeau, seorang peneliti di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia.

Analis dari Jefferies juga menggarisbawahi adanya potensi perubahan preferensi infrastruktur energi akibat ketidakpastian pasokan saat ini.

"Keengganan yang lebih besar terhadap investasi infrastruktur dapat mempercepat alternatif gas, berpotensi membatasi pertumbuhan permintaan selama lima hingga 10 tahun," kata analis Jefferies termasuk Emma Schwartz dalam sebuah catatan pekan lalu.

Sekretaris Jenderal Uni Gas Internasional, Menelaos Ydreos, mempertanyakan dampak efisiensi penggunaan gas yang terpaksa dilakukan banyak negara saat ini.

"Ada tindakan signifikan yang diambil oleh beberapa negara yang kurang mampu untuk mengurangi risiko," kata Sekretaris Jenderal Uni Gas Internasional Menelaos Ydreos.

Ketidakpastian ketersediaan pasokan menjadi variabel utama yang akan menentukan seberapa besar penurunan permintaan gas akan terjadi secara permanen.

"Pertanyaan besarnya adalah, ketika negara-negara menerapkan cara-cara untuk mengelola ketersediaan gas yang berkurang, sejauh mana hal itu akan menciptakan penurunan permintaan jangka panjang?" kata Sekretaris Jenderal Uni Gas Internasional Menelaos Ydreos.

Data ICIS menunjukkan impor LNG Asia merosot ke level terendah dalam enam tahun terakhir hingga pertengahan April 2026. Di Bangladesh, kenaikan harga energi ini diprediksi memangkas pertumbuhan PDB sebesar 1,2 poin persentase tahun ini akibat beban biaya listrik yang membengkak.