Krisis Energi Timur Tengah Menekan Industri dan Rumah Tangga Asia

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Kawasan Asia menghadapi gangguan pasokan energi serius akibat konflik di Timur Tengah yang memicu blokade jalur distribusi strategis di Selat Hormuz pada April 2026. Laporan International Energy Agency (IEA) mencatat kondisi ini memukul sektor industri manufaktur hingga konsumsi gas rumah tangga di berbagai negara berkembang.

Dilansir dari Money, gangguan distribusi tersebut menyebabkan penurunan permintaan global untuk bahan baku petrokimia sebesar 1,5 juta barel per hari (bph) pada kuartal II 2026. Dampak paling signifikan dirasakan oleh industri petrokimia di Asia yang sangat bergantung pada pasokan naphtha, LPG, dan etana.

Sejumlah fasilitas manufaktur di Asia melaporkan pemangkasan kapasitas produksi antara 10 persen hingga 30 persen akibat lonjakan biaya bahan baku. Penurunan konsumsi naphtha tercatat mencapai 450.000 bph, sementara penggunaan LPG dan etana menyusut 320.000 bph dibandingkan periode sebelum konflik.

"Persediaan polimer di beberapa pasar mulai menipis, mengancam sektor manufaktur, tekstil, konstruksi, dan kemasan," tulis International Energy Agency (IEA) dalam laporannya yang dikutip pada Kamis (16/4/2026). Penipisan stok ini dikhawatirkan akan memicu gangguan operasional yang lebih luas pada industri hilir.

Sektor domestik turut terdampak di mana konsumsi LPG dan etana di negara non-OECD diperkirakan merosot hingga 990.000 bph secara tahunan sepanjang Maret hingga Mei 2026. India menjadi salah satu negara terdampak dengan penurunan konsumsi LPG sebesar 12,5 persen dan naphtha 14 persen pada Maret 2026.

Menanggapi krisis tersebut, pemerintah di berbagai negara Asia mulai menerapkan kebijakan penghematan energi dan substitusi bahan bakar. India memberlakukan sistem penjatahan LPG dan mendorong energi alternatif, sementara Pakistan dan Bangladesh mengalihkan pembangkit listrik ke bahan bakar minyak untuk menggantikan gas.

Tiongkok memilih meningkatkan penggunaan batu bara sebagai bahan baku alternatif guna menjaga kestabilan produksi petrokimia di tengah keterbatasan minyak. IEA menegaskan bahwa pemulihan arus distribusi melalui Selat Hormuz merupakan kunci utama untuk meredakan tekanan ekonomi global dan menstabilkan harga pasar energi ke depan.