Krisis Kepercayaan Gagalkan Negosiasi AS&Iran di Pakistan

Sedang Trending 2 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Pembicaraan awal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan damai. Kegagalan ini, menurut pakar geopolitik Wibawanto Nugroho Widodo, disebabkan oleh krisis kepercayaan yang mendalam antara kedua negara, seperti dikutip dari Breaking News, Metro TV, Minggu, 12 April 2026.

Wibawanto menjelaskan, defisit kepercayaan dan trauma masa lalu menjadi dua faktor utama yang tidak terpenuhi dalam perundingan. Meskipun demikian, kedua pihak tetap bernegosiasi untuk mencegah eskalasi konflik, meski belum mampu menyentuh isu-isu fundamental.

Perbedaan tuntutan mendasar juga menjadi penghalang utama kesepakatan. Syarat-syarat yang diajukan AS dinilai tidak sejalan dengan kepentingan dan tujuan Iran, sehingga sulit mencapai titik temu dalam perundingan.

Amerika Serikat mengajukan beberapa tuntutan utama. Ini meliputi pembatasan kekuatan militer dan program nuklir Iran, termasuk jaringan proksinya di kawasan. AS juga menuntut jaminan Selat Hormuz tetap terbuka sebagai jalur perdagangan global yang vital.

Selain itu, AS berupaya mencegah masuknya pengaruh Tiongkok dan Rusia dalam struktur keamanan Timur Tengah. Mereka juga ingin memastikan Iran tidak mengancam Israel serta negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701. Resolusi ini mengharuskan Hizbullah mundur dari Lebanon Selatan serta Hamas meninggalkan Gaza, Palestina.

Bagi AS dan Israel, langkah-langkah tersebut dianggap penting untuk mewujudkan kedaulatan penuh Lebanon. Harapannya, ini akan membuka jalan menuju perdamaian dan pembahasan solusi bagi Palestina. Namun, tuntutan-tuntutan ini ditolak keras oleh Iran karena bertentangan dengan kepentingannya.

Iran menolak untuk tunduk pada semua tuntutan AS dan Israel. Penolakan ini berakar dari trauma strategis yang telah dialami Iran selama bertahun-tahun. Kondisi ini kemudian mendorong AS untuk mengambil pendekatan yang berbeda, yaitu melalui tekanan dan konfrontasi terbuka.

Wibawanto berpendapat bahwa kegagalan perundingan ini justru dapat mendorong Iran untuk semakin memperkuat kemampuan militer dan program nuklirnya. Apabila konflik terus berlanjut, situasi ini berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas, bahkan menyeret dunia menuju perang global.

"Saya bilang bahwa ini adalah staging menuju perang dunia yang tidak akan terhindarkan karena sistem dunia itu akan berubah dalam sekian waktu," kata Wibawanto.

Wibawanto menambahkan, potensi perang dunia dapat terjadi melalui empat tahapan. Menurutnya, konflik AS-Iran saat ini telah memasuki tahapan ketiga. Tahap pertama adalah perang proksi atau konflik politik jangka panjang yang terjadi 47 tahun lalu.

Tahap kedua berupa perang konvensional terbatas, di mana konflik AS-Israel dan Iran awalnya diperkirakan selesai kurang dari seminggu. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, konflik tersebut berkembang menjadi perang kawasan atau regional war.

Tahap ketiga ini ditandai dengan keterlibatan kekuatan besar seperti Rusia, China, hingga North Atlantic Treaty Organization (NATO). Keterlibatan ini memicu efek berantai atau chain reaction antar pihak-pihak terkait.

Dengan demikian, hanya tersisa satu tahap lagi sebelum konflik berpotensi meningkat menjadi perang dunia III. "Sudah tinggal satu step lagi menuju perang dunia karena perang dunia itu secara definisi adalah perang yang melibatkan semua great powers, pemilik senjata nuklir semua keluar di situ dan perangnya menjadi multi," jelas Wibawanto.