Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) melaporkan bahwa kuota pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap nasional sebesar 485 megawatt (MW) telah terserap sepenuhnya oleh masyarakat pada Jumat, 17 April 2026. Tingginya minat ini mendorong munculnya daftar tunggu pemasangan yang kini mencapai kapasitas 200 MW.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi situasi ini dengan rencana pengajuan tambahan kuota sebesar 400 hingga 500 MW kepada PT PLN (Persero). Lonjakan permintaan ini tetap stabil meski terjadi fluktuasi pada pasokan energi fosil global, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari menjelaskan bahwa fenomena habisnya kuota pendaftaran ini merupakan kejadian berulang yang dialami setiap tahun. Hal tersebut menunjukkan konsistensi minat masyarakat terhadap penggunaan energi surya di bangunan mereka.
"Kuota saat ini 485 MW sudah 100% terserap, daftar tunggu 200 MW. Selain itu insyaallah ada penambahan sekitar 400—500 MW lagi," kata Mada Ayu Habsari, Ketua Umum AESI.
Mada menegaskan bahwa permintaan terhadap pemasangan panel surya di atas atap tidak mengalami lonjakan drastis akibat krisis energi fosil, melainkan karena tren pasar yang sudah terbentuk kuat. Pihaknya melihat volume permintaan tetap tinggi secara berkelanjutan.
"Betul ada permintaan tambahan, tetapi tidak banyak. Permintaan rooftop [PLTS atap] selalu banyak dari tahun ke tahun," tegas Mada Ayu Habsari, Ketua Umum AESI.
Data Kementerian ESDM menunjukkan pertumbuhan signifikan penggunaan PLTS atap yang hingga Juli 2025 telah mencapai 538,46 megawatt peak (MWp). Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan, Andriah Feby Misna, mencatat kapasitas tersebut terbagi di antara 10.882 pelanggan PLN di berbagai wilayah.
Pertumbuhan bulanan per Juli 2025 tercatat sebesar 8,78 persen jika dibandingkan dengan realisasi pada Juni 2025 yang berada di angka 495 MWp. Pemerintah menargetkan kapasitas terpasang total secara nasional dapat menembus 2 GW pada tahun 2028 dengan fokus utama di wilayah Jawa, Madura, dan Bali.
Kondisi pasar regional turut terpengaruh oleh konflik geopolitik yang menyebabkan harga minyak mentah melampaui US$100 per barel. Di Malaysia, Solarvest Holdings Bhd berupaya mempercepat proyek energi terbarukan mereka guna merespons kenaikan biaya energi industri.
"Jika sebuah proyek membutuhkan waktu 18 hingga 24 bulan untuk diselesaikan, kami perlu berdiskusi dengan regulator mengenai bagaimana kami dapat mengeksekusinya lebih cepat, mungkin menjadi 12 hingga 16 bulan," kata Davis Chong, CEO Solarvest.
CEO Solarvest memperkirakan biaya energi fosil untuk sektor industri akan terus merangkak naik pada paruh kedua tahun 2026. Di sisi lain, harga panel surya dan baterai diprediksi tetap stabil pada kisaran US$0,11 per watt dan US$100 per kilowatt-jam karena jalur pasokan dari China masih aman.
Peningkatan permintaan energi surya juga dirasakan oleh pengembang lain di Malaysia dengan pertumbuhan mencapai 40 persen pada April 2026. Sektor pusat data dan rantai pasok semikonduktor menjadi penggerak utama transisi energi ini demi efisiensi biaya operasional jangka panjang.
"Bagi industri kami, semakin tinggi biaya energi, semakin cepat pengembalian investasi, sehingga semakin masuk akal secara finansial," kata Cliff Siaw, CEO Progressture Power Sdn.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·