Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (5/5). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 13,50 poin atau 0,08 persen ke Rp 17.407 per dolar AS.
Pelemahan berlanjut hingga pukul 09.52 WIB, di mana rupiah terkoreksi lebih dalam sebesar 18,00 poin atau 0,10 persen ke level Rp 17.412 per dolar AS. Bahkan pukul 10.44 WIB, rupiah kembali melemah 31,50 poin (0,18 persen) ke Rp 17.425 per dolar AS.
Di tengah tekanan ini, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan komitmen BI dalam mengawal pergerakan rupiah agar tetap sesuai fundamental ekonomi.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” jelas Erwin dalam keterangannya, Selasa (5/5).
Erwin menjelaskan, pelemahan rupiah bukan fenomena yang berdiri sendiri. Sejak meningkatnya konflik di Timur Tengah khususnya Perang Iran-AS, sejumlah mata uang negara berkembang juga mengalami tekanan serupa.
Untuk meredam gejolak, BI mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing (valas) melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
“Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global,” terang Erwin.
Erwin menyebutkan, sejumlah mata uang negara tetangga juga terpantau lemah seperti Filipina Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chili Peso lemah 4,24 persen, Indonesia Rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·