Laga 8 Besar Bupati Cup 4 Diwarnai Protes Pemain atas Kepemimpinan Wasit

Sedang Trending 2 jam yang lalu

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Pertandingan babak 8 besar turnamen Bupati Cup 4 yang mempertemukan RSUD GAG FC melawan Ripon FC di Stadion Hinang Golloa, Kabupaten Lamandau, Kamis sore (23/4/2026) berakhir prematur.  Pasalnya, laga yang baru berjalan di babak pertama, terpaksa terhenti setelah pemain RSUD GAG FC memutuskan untuk mundur dari lapangan lantaran menilai kepemimpinan wasit yang tidak sportif.

Ketegangan mulai memuncak saat memasuki menit ke-20 pertandingan. Meski dalam kondisi tertinggal skor 1-0 dari Ripon FC, RSUD GAG FC merasa keputusan-keputusan yang diambil pengadil lapangan sangat merugikan dan tidak berimbang. Puncaknya terjadi ketika wasit melayangkan kartu merah kepada salah satu pemain RSUD GAG FC yang dianggap sebagai keputusan sepihak.

Merasa diperlakukan tidak adil, seluruh pemain beserta ofisial RSUD GAG FC langsung meninggalkan bangku cadangan dan keluar dari area lapangan hijau. Aksi “walk out” ini diambil sebagai bentuk protes keras terhadap jalannya pertandingan yang dinilai sudah tidak lagi menjunjung tinggi nilai sportivitas dalam dunia olahraga.

“Kami mengakui adanya pelanggaran. Tetapi wasit tidak seharusnya semena-mena langsung mengeluarkan kartu merah. Masih ada opsi kartu kuning atau sekadar teguran terlebih dahulu. Kalau caranya begini, kami menilai wasit cenderung miring sebelah,” ujar salah satu pemain RSUD GAG FC di tepi lapangan.

Selain masalah kartu merah, kekecewaan tim juga dipicu oleh regulasi pemain yang dinilai mendadak. Pihak RSUD GAG FC mengaku telah menyewa pemain dari luar daerah untuk memperkuat tim di babak 8 besar ini. Namun, saat pemain tersebut hendak diturunkan, panitia melarang mereka bermain dengan alasan nama-nama tersebut tidak terdaftar sejak awal turnamen.

“Hari ini sungguh mengecewakan. Pemain luar yang kami datangkan tidak diizinkan tampil oleh panitia dengan dalih tidak terdaftar. Padahal kami sudah mempersiapkan segalanya untuk laga krusial ini. Kenapa tidak di kasih tau dari awal,” lanjut pemain tersebut dengan nada penuh sesal terkait koordinasi teknis dari pihak penyelenggara.

Meski meninggalkan laga dengan rasa kecewa, tim RSUD GAG FC tetap menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pihak panitia Dispora Lamandau serta seluruh penyelenggara.

Electronic money exchangers listing

“Kami berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan demi kemajuan sepak bola di Kabupaten Lamandau agar lebih profesional dan berkembang pesat,” tandasnya. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Pertandingan babak 8 besar turnamen Bupati Cup 4 yang mempertemukan RSUD GAG FC melawan Ripon FC di Stadion Hinang Golloa, Kabupaten Lamandau, Kamis sore (23/4/2026) berakhir prematur.  Pasalnya, laga yang baru berjalan di babak pertama, terpaksa terhenti setelah pemain RSUD GAG FC memutuskan untuk mundur dari lapangan lantaran menilai kepemimpinan wasit yang tidak sportif.

Ketegangan mulai memuncak saat memasuki menit ke-20 pertandingan. Meski dalam kondisi tertinggal skor 1-0 dari Ripon FC, RSUD GAG FC merasa keputusan-keputusan yang diambil pengadil lapangan sangat merugikan dan tidak berimbang. Puncaknya terjadi ketika wasit melayangkan kartu merah kepada salah satu pemain RSUD GAG FC yang dianggap sebagai keputusan sepihak.

Merasa diperlakukan tidak adil, seluruh pemain beserta ofisial RSUD GAG FC langsung meninggalkan bangku cadangan dan keluar dari area lapangan hijau. Aksi “walk out” ini diambil sebagai bentuk protes keras terhadap jalannya pertandingan yang dinilai sudah tidak lagi menjunjung tinggi nilai sportivitas dalam dunia olahraga.

Electronic money exchangers listing

“Kami mengakui adanya pelanggaran. Tetapi wasit tidak seharusnya semena-mena langsung mengeluarkan kartu merah. Masih ada opsi kartu kuning atau sekadar teguran terlebih dahulu. Kalau caranya begini, kami menilai wasit cenderung miring sebelah,” ujar salah satu pemain RSUD GAG FC di tepi lapangan.

Selain masalah kartu merah, kekecewaan tim juga dipicu oleh regulasi pemain yang dinilai mendadak. Pihak RSUD GAG FC mengaku telah menyewa pemain dari luar daerah untuk memperkuat tim di babak 8 besar ini. Namun, saat pemain tersebut hendak diturunkan, panitia melarang mereka bermain dengan alasan nama-nama tersebut tidak terdaftar sejak awal turnamen.

“Hari ini sungguh mengecewakan. Pemain luar yang kami datangkan tidak diizinkan tampil oleh panitia dengan dalih tidak terdaftar. Padahal kami sudah mempersiapkan segalanya untuk laga krusial ini. Kenapa tidak di kasih tau dari awal,” lanjut pemain tersebut dengan nada penuh sesal terkait koordinasi teknis dari pihak penyelenggara.

Meski meninggalkan laga dengan rasa kecewa, tim RSUD GAG FC tetap menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pihak panitia Dispora Lamandau serta seluruh penyelenggara.

“Kami berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan demi kemajuan sepak bola di Kabupaten Lamandau agar lebih profesional dan berkembang pesat,” tandasnya. (bib)