Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mendorong pembenahan sistem pemagangan (internship) dokter di Indonesia, menyusul meninggalnya empat tenaga medis dalam tiga bulan terakhir.
“Ini bukan sekadar musibah, tetapi dapat dimaknai sebagai sinyal adanya persoalan sistemik yang harus segera dibenahi. Para dokter muda tidak boleh menjadi korban akibat sistem yang kurang sempurna,” kata dia dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Dia menilai rangkaian kejadian ini harus menjadi alarm untuk mengevaluasi sistem internship dokter. Salah satu yang disorotinya, yaitu ketidakjelasan status peserta internship yang berada di antara posisi sebagai peserta didik dan tenaga kesehatan.
“Kondisi ini berdampak pada lemahnya perlindungan hak, termasuk terkait jam kerja, jaminan kesehatan, serta kepastian kesejahteraan,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap sistem supervisi dan pendampingan.
Baca juga: Legislator: Lakukan investigasi menyeluruh soal kematian dokter magang
Program internship, ucap dia, seharusnya menjadi proses belajar untuk membangun kompetensi dan kemandirian, bukan menggantikan peran tenaga medis penuh tanpa pengawasan yang memadai.
“Banyak laporan yang menunjukkan beban kerja tinggi, bahkan melebihi batas serta minimnya pendampingan. Ini berisiko tidak hanya bagi dokter muda, tetapi juga bagi keselamatan pasien,” ucapnya.
Selaku legislator bidang kesehatan dan ketenagakerjaan, Netty turut menyoroti lemahnya sistem pengawasan dan pelaporan terhadap kondisi dokter magang.
Menurut dia, masih ada dokter internship yang enggan melaporkan kondisi kerja yang tidak ideal karena khawatir berdampak pada penilaian dan kelulusan.
Oleh sebab itu, dia meminta pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk segera melakukan langkah konkret.
Baca juga: Pemerintah diminta bentuk tim investigasi usut kematian dokter magang
“Antara lain dengan melakukan evaluasi nasional terhadap seluruh wahana internship, memperkuat sistem supervisi, serta memastikan adanya mekanisme pengaduan yang aman dan independen,” katanya.
Di samping itu, dia juga mendorong pembentukan tim investigasi yang transparan dan akuntabel guna mengungkap penyebab pasti dari kematian dokter peserta magang tersebut, sekaligus merumuskan perbaikan kebijakan ke depan.
“Keselamatan dokter adalah bagian dari keselamatan pasien. Kita tidak boleh menutup mata. Ini momentum untuk melakukan pembenahan total,” demikian Netty.
Sebelumnya, dokter internship bernama Myta Aprilia Azmi meninggal dunia pada Jumat (1/5) usai sempat dirawat di rumah sakit. Sebelum meninggal, ia diduga mengalami beban kerja berlebih saat mengikuti program internship di Rumah Sakit K.H. Daud Arif, Jambi.
Meninggalnya dr. Myta menjadi kasus kematian dokter magang yang keempat dalam tiga bulan terakhir. Sebelumnya, tercatat ada tiga dokter magang meninggal dunia, yakni di Cianjur, Jawa Barat; Rembang, Jawa Tengah dan di Denpasar, Bali.
Baca juga: Polisi tunggu investigasi Kemenkes terkait meninggalnya dokter magang
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·