Musim pembagian dividen, OJK pastikan permodalan bank tetap kuat

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Berbagai indikator lainnya juga positif pada periode yang sama

Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan permodalan perbankan tetap kuat di tengah musim pembagian dividen pada awal tahun, sebagaimana tercermin dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang berada pada level 25,09 persen per Maret 2026.

Meski CAR mengalami penurunan tipis sebesar 0,74 poin persentase dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 25,83 persen, level tersebut dinilai masih tergolong tinggi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers RDKB di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa CAR yang solid tersebut menandakan ketahanan permodalan perbankan yang tetap kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai.

Secara umum, tingkat profitabilitas bank tetap terjaga dengan return on asset (ROA) tercatat sebesar 2,47 persen dan net interest margin (NIM) sebesar 4,38 persen per Maret 2026.

"Berbagai indikator lainnya juga positif pada periode yang sama, dengan likuiditas industri yang tetap memadai serta kualitas aset yang tetap terjaga," katanya.

Rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid/dana pihak ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 122,55 persen dan 27,85 persen, masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada pada level 193,64 persen, sedangkan net stable funding ratio (NSFR) berada pada level 128,84 persen.

Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,14 persen dan NPL net terjaga pada level 0,83 persen. Di sisi lain, loan at risk (LaR) tercatat sebesar 8,94 persen.

Pada Maret 2026, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp8.659 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,85 persen (yoy), diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 5,88 persen (yoy), sedangkan kredit modal kerja sebesar 4,38 persen (yoy).

Berdasarkan kategori debitur, kredit dengan pertumbuhan tertinggi adalah kredit korporasi yang tumbuh sebesar 14,88 persen (yoy).

Sementara kredit UMKM telah menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif sebesar 0,12 persen (yoy) dari posisi Februari 2026 yang terkontraksi sebesar 0,56 persen (yoy).

Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 13,66 persen yoy.

Porsi produk kredit buy now pay later (BNPL) perbankan tercatat sebesar 0,33 persen. Per Maret 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK, tumbuh sebesar 24,20 persen yoy menjadi Rp28,3 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 30,81 juta.

Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,55 persen yoy menjadi Rp10.231 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 21,37 persen (yoy), 11,57 persen (yoy), dan 8,36 persen (yoy).

Baca juga: OJK: Kredit program pemerintah dalam revisi aturan RBB tidak wajib

Baca juga: OJK intensif pantau sektor jasa keuangan di tengah konflik Iran-AS

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.