Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo menilai, Pemprov DKI harus mencari nilai ekonomi dari ikan sapu-sapu, agar pengendalian ikan invasif itu dapat dilakukan dengan lebih baik dan tidak hanya menjadi agenda musiman ketika viral.
"Pengendalian populasi harus terhubung dengan rantai ekonomi. Di banyak negara, spesies invasif berhasil ditekan ketika memiliki nilai ekonomi," kata Rio di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, persoalan membludaknya ikan sapu-sapu di sungai Jakarta tidak boleh dipandang sebagai agenda musiman yang muncul ketika viral, lalu hilang ketika perhatian publik mereda.
Rio mengatakan bahwa penangkapan massal yang dilakukan saat ini tentu perlu diapresiasi sebagai langkah awal. Namun jika pendekatannya hanya reaktif dan insidental, maka populasi ikan ini akan kembali meledak dalam waktu singkat.
"Ini bukan sekadar isu kebersihan sungai, tetapi sudah masuk kategori persoalan krisis ekologi perkotaan," ujarnya.
Untuk itu kata Rio, Pemprov DKI harus mencari nilai ekonomi dari ikan sapu-sapu apakah sebagai bahan baku pakan ternak, dan pupuk, serta potensi lainnya dalam pemanfaatan Ikan tersebut.
Karena ketika pengendalian ikan invasif tersebut disertai dengan nilai ekonomi, maka Pemprov tidak perlu bergerak sendiri, sebab nantinya banyak warga yang pasti menangkap ikan tersebut.
Selain itu, Rio menilai ada beberapa hal mendasar yang harus segera dilakukan Pemprov DKI salah satunya pencegahan di hulu, karena salah satu sumber utama masalah ini adalah pelepasan ikan hias ke perairan umum tanpa kontrol.
"Jakarta membutuhkan regulasi yang tegas, edukasi publik yang masif, serta pengawasan terhadap perdagangan ikan hias. Pencegahan selalu jauh lebih efektif daripada pemberantasan," katanya menambahkan.
Baca juga: Pemkot Jaktim tangkap 1,83 ton ikan sapu-sapu di 10 kecamatan
Baca juga: Pemprov DKI evaluasi penanganan ikan sapu-sapu
Baca juga: Penanganan ikan sapu-sapu di Jaksel sesuai rekomendasi MUI
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·