Sejumlah lembaga keuangan internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Laporan yang dirilis pada April 2026 ini menunjukkan variasi angka pertumbuhan mulai dari 4,7 persen hingga 5,2 persen akibat berbagai tekanan global.
Data yang dihimpun dari Bloombergtechnoz mencatat bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) mematok angka 5 persen, sementara Asian Development Bank (ADB) memberikan estimasi tertinggi sebesar 5,2 persen. Sebaliknya, Bank Dunia dan OECD memproyeksikan angka yang lebih rendah, yakni masing-masing 4,7 persen dan 4,8 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menetapkan target yang lebih optimistis dengan ambisi pertumbuhan pada kisaran 5,5 persen hingga 6 persen. Perbedaan angka ini mencerminkan pandangan yang berbeda terhadap ketahanan ekonomi domestik di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pasar global.
IMF dalam laporannya memperkirakan terjadinya perlambatan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada 2026. Penurunan ini dipicu oleh pecahnya perang di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas perdagangan internasional yang baru saja pulih.
"Dengan asumsi konflik tetap terbatas dari sisi durasi dan cakupan, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat menjadi 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027." sebut IMF dalam laporannya.
Bank Dunia merevisi turun proyeksi ekonomi Indonesia dari 4,8 persen pada Oktober 2025 menjadi 4,7 persen dalam laporan edisi April 2026. Tekanan harga minyak dunia dan perilaku investor yang cenderung berhati-hati menjadi faktor utama koreksi tersebut.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,7%, seiring tekanan dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya sentimen kehati-hatian investor (risk-off)," tulis laporan World Bank berjudul East Asia and Pacific Economic Update.
Pihak ADB melihat situasi secara lebih stabil dengan proyeksi pertumbuhan 5,2 persen untuk tahun 2026 dan 2027. Kekuatan permintaan domestik serta keberlanjutan proyek infrastruktur dinilai mampu menahan dampak negatif dari memanasnya tensi geopolitik di luar negeri.
"Asia Tenggara diperkirakan mempertahankan pertumbuhan relatif stabil, didukung permintaan domestik dan belanja infrastruktur, meskipun pelemahan perdagangan global dan berkurangnya efek percepatan ekspor akan menekan beberapa ekonomi," tulis laporan Asian Development Outlook.
Sementara itu, OECD menurunkan angka proyeksi dari 5 persen menjadi 4,8 persen karena kenaikan eskalasi di Timur Tengah. Lembaga ini juga memperkirakan adanya potensi kenaikan inflasi utama di Indonesia sepanjang tahun 2026 seiring ketidakpastian ekonomi dunia.
| Pemerintah Indonesia (Target) | 5,4 - 6,0 |
| Asian Development Bank (ADB) | 5,2 |
| Dana Moneter Internasional (IMF) | 5,0 |
| OECD | 4,8 |
| Bank Dunia (World Bank) | 4,7 |
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·