Lestari Moerdijat Desak Krisis Rob Sayung Jadi Masalah Nasional

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, memberikan penegasan bahwa bencana rob yang melanda Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, bukan lagi masalah lokal. Fenomena ini merupakan bagian dari krisis garis pantai utara Jawa (Pantura) yang memerlukan respons nasional segera.

Dilansir dari Detikcom, perempuan yang akrab disapa Rerie ini menyatakan bahwa situasi di Sayung telah mencapai tahap krisis struktural. Kondisi tersebut mengakibatkan hilangnya daratan serta ruang hidup penduduk secara perlahan namun pasti.

"Yang terjadi di Sayung, Demak, bukan lagi sekadar banjir rob, melainkan krisis struktural yang menyebabkan hilangnya daratan dan ruang hidup masyarakat secara perlahan," tegas Rerie dalam keterangannya pada Selasa (5/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah dirinya menindaklanjuti hasil serap aspirasi masyarakat saat masa reses di wilayah tersebut pekan lalu. Data pendukung dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat urgensi penanganan kawasan ini.

Penelitian terbaru BRIN mengungkapkan bahwa 65,8% garis pantai di sepanjang Pantura mengalami abrasi yang signifikan dalam periode 2000 hingga 2024. Temuan ini dipaparkan oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin.

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel, kerusakan garis pantai di wilayah tersebut didominasi oleh erosi. Sebaliknya, proses akresi atau penambahan daratan hanya mencapai angka 34,2%.

Fenomena ini dianggap tidak lazim karena Pantura merupakan kawasan delta yang seharusnya menjadi wilayah sedimentasi alami. Namun, aktivitas hulu seperti kanalisasi, pembelokan sungai, serta pembangunan bendungan telah memutus suplai sedimen ke pesisir.

Dampak Meluas di Berbagai Wilayah Pesisir

Kerusakan akibat erosi ini telah terlihat di berbagai titik. Di Tanjung Pontang, Serang, tercatat daratan seluas 1,72 kilometer persegi telah hilang. Sementara di Muara Gembong, Bekasi, air laut sudah merangsek masuk hingga 4 kilometer.

Kondisi serupa melanda Legonkulon, Subang, dengan intrusi air laut sejauh 2 kilometer yang merendam ratusan hektare tambak. Di Indramayu, abrasi bahkan merusak akses jalan desa sepanjang 500 meter hingga 1 kilometer.

Khusus di wilayah Demak, air laut tercatat telah masuk hingga kedalaman 5-6 kilometer ke daratan. Dampaknya sangat fatal karena menenggelamkan kawasan persawahan produktif serta permukiman warga secara permanen.

Rerie menekankan bahwa kejadian di Sayung adalah peringatan serius bagi seluruh wilayah pesisir lainnya. Sepanjang tahun 2026, luasan wilayah terdampak rob di Demak melonjak tajam menjadi 6.600 hektare dari tahun sebelumnya yang hanya 1.200 hektare.

Legislator dari Dapil II Jawa Tengah ini mengungkapkan bahwa sekitar 15.000 kepala keluarga di 20 desa terdampak langsung. Saat ini, tercatat hanya tersisa 5 desa di Kecamatan Sayung yang masih mampu bertahan sebagai kawasan persawahan.

Akibat kehilangan lahan pertanian, mayoritas warga terpaksa beralih menjadi petani tambak tanpa bekal pengetahuan yang cukup. Sebagian besar lainnya terjun ke sektor informal dengan penghasilan yang tidak menentu.

"Transisi ini terjadi secara paksa, tanpa kesiapan dan tanpa dukungan sistemik," ujar Rerie memaparkan temuan di lapangan saat reses.

Masyarakat mengeluhkan rusaknya lingkungan tempat tinggal serta biaya hidup yang melambung tinggi di tengah merosotnya pendapatan. Kondisi ini membuat warga merasa berjuang sendirian dalam menghadapi bencana alam yang berkepanjangan.

"Mereka seperti dibiarkan menghadapi kondisi itu sendiri," ujar Rerie menyampaikan keluhan masyarakat di Kecamatan Sayung.

Rerie mendesak adanya langkah konkret berbasis sistem jangka panjang, termasuk program transisi ekonomi bagi warga terdampak. Ia menilai pembangunan fisik seperti tanggul tidak akan cukup tanpa disertai perlindungan sosial yang kuat.

"Yang hilang di Sayung bukan hanya tanah. Yang hilang adalah ruang hidup, kepastian, dan masa depan," pungkas Rerie.