Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya penguatan semangat kolektif dalam menata ulang sistem pendidikan nasional demi melahirkan generasi kritis dan berbudaya. Seruan transformasi ini disampaikan dalam diskusi daring Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (6/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Lestari menilai sistem pendidikan saat ini memerlukan penyesuaian besar karena adanya ketidaksinkronan antara filosofi dasar dengan implementasi di lapangan. Transformasi tersebut dianggap mendesak untuk menjawab dinamika perkembangan zaman yang kian kompleks.
"Saat ini, kita seperti berada pada persimpangan, ketika filosofi pendidikan nasional belum tuntas diterjemahkan dalam kurikulum pembelajaran, kita menghadapi berbagai tantangan zaman yang menuntut transformasi sejumlah sistem yang ada," ujar Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI.
Politisi yang akrab disapa Rerie ini menegaskan bahwa orientasi pendidikan tidak boleh hanya mengejar kebutuhan pasar. Menurutnya, konstitusi telah mengamanatkan bahwa fungsi utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh.
Anggota Komisi X DPR RI ini juga menyoroti perlunya keseimbangan antara kemampuan akademis dengan penguatan karakter. Ia berharap sistem pendidikan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki akar budaya dan nilai kebangsaan yang kuat.
Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek RI, Mukhamad Najib, memaparkan data bahwa Indonesia memiliki 4.416 perguruan tinggi yang menghasilkan 1,7 juta lulusan tiap tahun hingga 2025. Jumlah tersebut dipandang sebagai modal serius untuk mewujudkan visi Indonesia 2045, meski kualitasnya masih perlu ditingkatkan.
"Butuh upaya yang masif untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi nasional agar mampu mengantisipasi tantangan zaman," ujar Mukhamad Najib, Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek RI.
Najib mengakui bahwa mayoritas kampus di tanah air masih berstatus sebagai universitas pengajar (teaching university). Tantangan ke depan adalah mendorong institusi-institusi tersebut agar bisa bertransformasi menjadi universitas berbasis riset (research university).
Pandangan lain datang dari Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Melani Budianta, yang menolak adanya reduksi nilai pendidikan. Ia menggarisbawahi bahwa pendidikan harus menjadi solusi atas berbagai krisis multidimensi, mulai dari lingkungan hingga transformasi digital.
"Masyarakat kita saat ini rentan terhadap berbagai dampak transformasi multidimensi itu," ujar Melani Budianta, Guru Besar FIB UI.
Melani mengkhawatirkan hilangnya jati diri peserta didik akibat kurikulum yang kurang menekankan warisan budaya. Penataan kembali ingatan kolektif melalui pendidikan dianggap krusial dalam membangun fondasi karakter anak bangsa di masa depan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·