Lestari tekankan pendidikan tak boleh hanya menciptakan "mesin" kerja

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa pendidikan di Indonesia tidak boleh hanya sekadar menciptakan "mesin" kerja yang hanya memiliki kemampuan teknis.

"Kita semua tidak ingin pendidikan di Indonesia, pendidikan kita hanya menghasilkan mesin, jadi pekerja-pekerja yang melulu memiliki kemampuan teknis, tapi tidak memiliki kemampuan berpikir kritis, tidak memiliki kemampuan kemanusiaan," katanya dalam kegiatan Forum Diskusi Denpasar 12 yang digelar secara daring di Jakarta, Rabu.

Lestari menilai bahwa pendidikan tidak harus melulu disambungkan dengan logika pasar.

Ia mengingatkan gagasan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara yang menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan dan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan setinggi-setingginya.

"Oleh karena itu, dalam pemikiran kami, kita harus menetapkan pendidikan dalam konteks yang tepat, dalam rangka yang tepat. Tidak hanya menggunakan satu logika bahwa pendidikan itu menyiapkan anak, menyiapkan generasi muda yang siap untuk nanti bekerja di pasar," ujarnya menegaskan.

Baca juga: Kunci masa depan pendidikan dari ruang kelas

Dalam konteks yang lebih luas, Lestari mengungkapkan urusan manusia bukan sekadar pasar, tapi banyak hal-hal substansial yang tidak bisa dinilai dengan hitung-hitungan untung dan rugi.

Menurut dia, pendidikan Indonesia saat ini berada di persimpangan yang kritis, di mana perubahan zaman menuntut manusia untuk melakukan pendalaman kembali dan memaksa manusia untuk mulai mengubah cara berpikir.

"Mengajarkan anak-anak bukan sekadar mampu menghafal, di mana itu harus kita akui itu adalah kelemahan dari kita. Anak-anak hanya bisa menghafal atau sebatas menghafal, tapi terjebak pada limitasi atau ketidakmampuan ketika mereka harus kemudian mengaplikasikan apa yang mereka dapatkan ke dalam keseharian, terutama ketika mereka menyelesaikan pendidikan dan kemudian betul-betul mulai masuk ke dunia nyata," ucap dia.

Lestari menggarisbawahi perkembangan zaman menuntut transformasi sekolah dari ruang akademis menuju kemampuan untuk memiliki pengetahuan, keterampilan, serta akhlak dan karakter yang mulia.

"Harapan kita, pendidikan kita bisa melahirkan manusia-manusia yang berbudaya, di samping tentu memenuhi kualifikasi-kualifikasi yang memang sudah dipersyaratkan, dan manusia-manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan filosofi kebangsaan kita," tutur Lestari Moerdijat.

Baca juga: Pram yakin Jakarta bisa jadi "role model" pendidikan di Indonesia

Baca juga: Wamendiktisaintek minta pemuda ubah mindset guna tingkatkan daya saing

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.