Kenaikan harga bahan bakar menekan berbagai sektor pariwisata serta minat masyarakat di AS untuk berlibur pada musim panas tahun ini, baik menggunakan pesawat maupun kendaraan pribadi.
Dikutip dari Money, harga tiket pesawat kini berada di level tertinggi sejak Mei 2022, ketika maskapai penerbangan bangkit dari pandemi Covid-19.
Kala itu, maskapai menghadapi tantangan keterbatasan armada dan tenaga kerja, namun terjadi lonjakan permintaan perjalanan akibat tren “revenge travel”.
Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga bensin di AS telah melampaui 4 dollar AS per galon dan berpotensi mendekati 5 dollar AS per galon selama musim panas.
Harga avtur bahkan melonjak dua kali lipat dalam kurun kurang dari tiga bulan terakhir, setelah AS dan Israel menyerang Iran, dan memicu konflik yang menyebabkan salah satu jalur pelayaran penting dunia praktis tertutup.
Data Airlines Reporting Corporation menunjukkan penjualan tiket agen perjalanan domestik pulang-pergi pada April rata-rata mencapai 623 dollar AS, tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Bahan bakar jet juga menjadi komponen biaya terbesar kedua bagi maskapai setelah biaya gaji pekerja, sehingga sejumlah operator penerbangan mulai membebankan kenaikan biaya tersebut kepada pelanggan.
Maskapai juga mulai memangkas rencana ekspansi akibat tingginya harga bahan bakar, yang membuat jumlah kursi semakin terbatas meskipun tidak semua rute dihentikan.
Meskipun permintaan tetap tinggi, kondisi ini berpotensi mendorong harga tiket semakin mahal.
Salah satu maskapai Low Cost Carrier (LCC) asal AS, Spirit Airlines, resmi menghentikan operasional awal bulan ini dan menyalahkan mahalnya harga avtur sebagai salah satu penyebab kegagalannya keluar dari krisis kebangkrutan berulang.
Peristiwa itu menjadi tekanan terbesar bagi bisnis maskapai di AS dalam beberapa dekade terakhir.
Sejumlah maskapai lain langsung berebut mengambil pangsa pasar Spirit, namun bangkrutnya maskapai tersebut juga mengurangi pilihan tiket murah bagi konsumen.
Lonjakan harga bahan bakar diperkirakan membuat biaya perjalanan musim panas tahun ini semakin mahal, baik untuk tiket pesawat maupun pengisian bahan bakar kendaraan.
Libur panjang Memorial Day di AS juga menggambarkan seberapa besar masyarakat bersedia mengeluarkan uang untuk bepergian di tengah kenaikan harga kebutuhan lain seperti bahan makanan hingga pakaian.
Transportation Security Administration (TSA) memperkirakan jumlah penumpang pesawat pekan ini akan sebanyak 18,3 million atau lebih rendah dibanding jumlah penumpang pada periode yang sama tahun lalu sebesar 18,5 million.
Sementara itu, perjalanan darat juga diperkirakan tidak lagi berbiaya murah.
AAA memproyeksikan sekitar 39,1 million orang akan melakukan perjalanan sejauh minimal 50 mil pekan ini atau hanya naik 0,1 persen dibanding libur Memorial Day tahun lalu, menjadi pertumbuhan paling rendah dalam satu dekade terakhir.
Situs pemantau harga BBM GasBuddy juga memperkirakan harga bensin rata-rata nasional mencapai 4,48 dollar AS per galon saat Memorial Day, naik dari 3,14 dollar AS tahun lalu.
Harga bahkan dapat menyentuh rata-rata 4,80 dollar AS per galon jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam sebagian besar musim panas.
Di tengah kondisi tersebut, minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata di AS sedikit lebih rendah pada bulan Maret yaitu 82,8 persen dibandingkan dengan 83,1 persen pada bulan yang sama tahun sebelumnya.
UBS mengatakan, angka ini masih relatif tinggi, tapi melambat.
“Kami yakin moderasi niat bepergian dari tahun ke tahun tahun ini kemungkinan disebabkan oleh harga bahan bakar jet yang lebih tinggi dan kekhawatiran geopolitik lainnya,” tulis analis maskapai penerbangan UBS, Atul Maheswari.
Atul Maheswari menilai perlambatan tersebut kemungkinan dipicu tingginya harga bahan bakar jet dan kekhawatiran geopolitik, namun ia menyebut minat bepergian masyarakat masih mendekati level tertinggi dalam sembilan tahun terakhir.
Sejauh ini, para eksekutif maskapai mengatakan pelanggan masih aktif melakukan pemesanan tiket dan tetap optimistis terhadap musim liburan musim panas.
Mereka juga memperkirakan adanya dorongan permintaan dari ajang Piala Dunia FIFA yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko pada Juni-Juli, serta konser besar seperti tur Harry Styles di Amsterdam dan London.
United Airlines memperkirakan akan mengangkut 53 million penumpang sepanjang Juni hingga Agustus, naik 3 million dibanding tahun lalu.
Sementara American Airlines memproyeksikan melayani 75 million pelanggan sepanjang 21 Mei hingga 8 September, melampaui rekor sebelumnya pada 2019.
Strategi Pemanfaatan Poin Perjalanan
Meski harga tiket mahal, wisatawan masih bisa mendapatkan penawaran menarik jika fleksibel menentukan jadwal dan destinasi perjalanan.
Pendiri situs Thrifty Traveler, Kyle Potter, menyarankan penggunaan fitur “Explorer” di Google Flights untuk mencari destinasi berdasarkan durasi perjalanan dan bulan keberangkatan.
Ia juga menyarankan masyarakat bepergian pada Selasa atau Rabu karena tarif dan tingkat kepadatan biasanya lebih rendah.
Menurut Potter, strategi tersebut bisa menghemat uang, terutama untuk perjalanan keluarga.
Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan poin frequent flyer atau poin kartu kredit yang selama ini disimpan.
“Sekarang adalah waktu terbaik menggunakan miles atau poin kartu kredit,” katanya.
“Banyak orang menumpuk miles karena ingin pergi ke Eropa pada 2027, padahal belum tentu nilainya tetap sama,” tegas dia.
Tekanan Biaya Operasional Maskapai Nasional
Tak jauh berbeda, industri penerbangan nasional tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga avtur.
Adapun harga avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
Kondisi tersebut membuat pemerintah dan pelaku industri melakukan berbagai penyesuaian agar operasional penerbangan tetap berjalan di tengah tingginya biaya bahan bakar.
Berdasarkan data periode Mei 2026, rata-rata harga avtur nasional tercatat mencapai Rp 29.116 per liter.
Kenaikan harga bahan bakar tersebut berdampak langsung terhadap tarif penerbangan.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan pun memberikan ruang bagi maskapai domestik untuk mengenakan biaya tambahan atau fuel surcharge hingga maksimal 50 persen dari tarif batas atas sebagai langkah menjaga keberlangsungan industri penerbangan.
Namun, kenaikan tarif tiket pesawat akibat tingginya komponen avtur dikhawatirkan akan memicu keluhan masyarakat.
In dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Kementerian Perhubungan diminta mencari solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan pemberian insentif atau subsidi agar harga tiket tetap terjangkau.
Di sisi lain, sejumlah maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Pelita Air mulai melakukan berbagai strategi efisiensi, mulai dari optimalisasi operasional hingga pengurangan frekuensi penerbangan pada beberapa rute tertentu guna menjaga kondisi keuangan perusahaan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Mengutip laman Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kemenhub, hingga Mei 2026 jumlah penumpang domestik secara keseluruhan sebanyak 28,6 million penumpang untuk kedatangan, sementara keberangkatan sebanyak 29,3 million.
Pada 2025, jumlah penumpang mencapai 82,6 million untuk kedatangan, dan 83,2 million untuk keberangkatan.
Sementara itu, pada 2024, jumlah kedatangan mencapai 80,9 million, dan jumlah keberangkatan mencapai 81,3 million.
Berikut adalah rincian harga avtur di beberapa bandara utama Indonesia pada Mei 2026:
| Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta | Rp 27.357 per liter | 162,9 dollar AS per liter |
| Bandar Udara Halim Perdanakusuma | Rp 28.581 per liter | 170,1 dollar AS per liter |
| Bandar Udara Internasional Kualanamu | Rp 28.626 per liter | 170,4 dollar AS per liter |
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·