Optimisme Damai AS&Iran Tekan Harga Minyak Dunia hingga 7 Persen

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam hampir 7 persen pada akhir perdagangan Senin (25/5/2026) waktu setempat akibat meningkatnya optimisme pasar terkait peluang terciptanya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Penurunan nilai komoditas ini terjadi di tengah harapan dibukanya kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, seperti dilansir dari Money yang mengutip Reuters.

Minyak mentah Brent merosot sebesar 7,24 dollar AS atau hampir 7 persen ke angka 96,30 dollar AS per barrel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6,30 dollar AS atau 6,5 persen ke posisi 90,88 dollar AS per barrel.

Anjloknya harga tetap berlangsung meskipun pemerintah AS dan Iran berupaya meredam ekspektasi pasar mengenai kesepakatan dalam waktu dekat, sementara negosiasi intensif dilaporkan tengah berjalan di Doha, Qatar.

Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menjelaskan situasi pasar yang mulai mengantisipasi pemulihan jalur pasokan energi global tersebut.

"Meskipun belum selesai, tampaknya ada harapan bahwa kita akan mulai melihat minyak kembali bergerak melalui Selat Hormuz," ujar Phil Flynn.

Flynn menambahkan bahwa kesepakatan komprehensif berpotensi memotong premi risiko geopolitik secara signifikan di kawasan Timur Tengah.

"Itu bisa berarti penurunan signifikan premi risiko di Timur Tengah, terutama jika kesepakatan dengan Iran tercapai dan Iran menyerahkan material nuklirnya," ujar Phil Flynn.

Di sisi lain, pendiri Commodity Context, Rory Johnston, memberikan peringatan agar pelaku pasar tidak terlalu larut dalam optimisme yang berlebihan.

"Kita sudah beberapa kali hampir mencapai kesepakatan, tetapi kemudian gagal pada detail-detail pembahasan dalam beberapa bulan terakhir dan Selat Hormuz masih tetap tertutup," kata Rory Johnston.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan lewat Truth Social bahwa pembicaraan berjalan baik namun tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan, sementara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan fokus utama saat ini hanyalah menghentikan perang.

Kondisi riil di lapangan juga diproyeksikan memerlukan waktu pemulihan yang cukup panjang akibat kerusakan pada berbagai fasilitas minyak dan gas.

Analis Sparta Commodities, June Goh, menyebutkan dampak kerusakan infrastruktur membuat penyelesaian defisit pasokan tidak dapat terjadi secara instan.

"Kekurangan pasokan sekitar 10-11 juta barrel per hari tidak akan hilang begitu saja, dan pasar masih akan terus menguras persediaan sampai produksi minyak Timur Tengah kembali normal, yang kemungkinan memerlukan waktu beberapa bulan," ujar June Goh.

Penilaian senada disampaikan analis UBS, Giovanni Staunovo, yang menekankan pentingnya memantau pergerakan distribusi fisik komoditas tersebut.

"Kami tetap percaya faktor utama yang harus diperhatikan pasar minyak adalah arus fisik minyak, dan sejauh ini aliran melalui selat masih terbatas," kata Giovanni Staunovo.

Berdasarkan data pelacakan kapal terbaru, aktivitas pelayaran mulai menunjukkan pergerakan dengan melintasnya tiga tanker gas alam cair menuju Asia serta satu supertanker pengangkut minyak mentah Irak ke China.