Marco Rubio Setujui Penjualan Senjata 9 Miliar Dolar ke Timur Tengah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyetujui percepatan transfer senjata senilai hampir US$9 miliar ke Israel, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab pada Sabtu (2/5/2026). Langkah darurat ini diambil untuk segera mengirimkan sistem pertahanan udara di tengah rapuhnya gencatan senjata perang dengan Iran.

Otoritas Departemen Luar Negeri AS memberikan izin penjualan amunisi dan teknologi militer canggih guna memperkuat stabilitas di kawasan Timur Tengah. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, keputusan ini melewati proses peninjauan standar Kongres yang biasanya memakan waktu lebih lama.

Israel mendapatkan izin untuk membeli 10.000 unit Advanced Precision Kill Weapon System-II (APKWS-II) All Up Rounds dengan nilai mencapai US$992,4 juta. Komponen yang diproduksi oleh BAE Systems tersebut dirancang untuk meningkatkan akurasi sistem panduan laser pada alutsista udara.

Sementara itu, Kuwait menerima persetujuan untuk pengadaan Sistem Komando Pertempuran Terpadu beserta peralatan pendukungnya senilai US$2,5 miliar. Proyek besar ini melibatkan beberapa kontraktor utama pertahanan global seperti Lockheed Martin Corp, RTX Corp, dan Northrop Grumman Corp.

Qatar tercatat sebagai penerima nilai kontrak terbesar dengan rencana pembelian 200 rudal pencegat Patriot Advanced Capability-2 (PAC-2) dan 300 unit PAC-3 Missile Segment Enhancement. Kesepakatan rudal Patriot tersebut bernilai US$4,01 miliar, ditambah pesanan terpisah untuk 10.000 unit APKWS-II senilai US$992,4 juta.

Uni Emirat Arab juga mendapatkan akses pembelian teknologi APKWS dan peralatan terkait senilai US$147,6 juta. Percepatan ini didasari oleh penilaian keamanan nasional yang mendesak dari pihak kementerian luar negeri terhadap situasi geopolitik saat ini.

Mengenai alasan otorisasi cepat ini, terdapat penegasan mengenai adanya situasi darurat yang mengharuskan pengiriman segera dilakukan demi kepentingan strategis Washington di kawasan tersebut.

"telah menentukan dan memberikan justifikasi terinci bahwa ada keadaan darurat yang mengharuskan penjualan segera" ujar Rubio, Menteri Luar Negeri.

Penjelasan resmi kementerian menyebutkan bahwa percepatan ini merupakan langkah krusial untuk melindungi sekutu dari ancaman serangan yang meningkat. Langkah serupa juga pernah dilakukan oleh pejabat terkait pada periode sebelumnya sebagai respons atas dinamika keamanan regional.

"sesuai dengan kepentingan keamanan nasional AS," kata Rubio, Menteri Luar Negeri.

Eskalasi konflik di kawasan telah meningkat sejak operasi militer bersama antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari lalu. Ketegangan semakin memuncak akibat penutupan Selat Hormuz yang memicu krisis energi dunia serta buntuya negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran.