ANTARA - Di tengah kehilangan yang begitu besar akibat bencana hidrometeorologi Sumatera pada akhir 2025, para penyintas di Aceh tidak hanya belajar menerima keadaan tetapi juga berjuang untuk tetap bertahan.
Semangat saling tolong para penyintas tetap hidup, meski mereka menjalani hari dalam kondisi serba terbatas termasuk ketika memasuki bulan suci Ramadhan. Bagi para penyintas, Ramadhan kali ini bukan tentang hidangan megah, melainkan tentang keikhlasan seperti salat tarawih di tenda pengungsian atau masjid yang masih menyisakan lumpur. (Mardiansyah Al Afghani/Keysha Anissa/Aprizal Rachmad, Erlangga Bregas Prakoso/Satrio Giri Marwanto/Ahmad Faishal Adnan)
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·