Menaker Yassierli Ingatkan Kualitas Sertifikasi Ahli K3 Jangan Dikorbankan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan agar proses sertifikasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Umum tidak mengorbankan standar kualitas demi mengejar kuantitas peserta pada Rabu (29/4/2026) di Jakarta. Langkah ini diambil untuk memastikan perlindungan pekerja tetap optimal di tengah dinamika industri yang terus berubah.

Kegiatan Pembinaan dan Sertifikasi Ahli K3 Umum Batch 2 Tahun 2026 ini diikuti oleh 2.100 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia melalui mekanisme daring. Penyelenggaraan tersebut bertujuan untuk memperkuat aspek perlindungan tenaga kerja secara nasional, sebagaimana dilansir dari Money.

“Kualitas tidak boleh dikorbankan oleh kuantitas. Sebanyak apapun jumlah peserta, yang paling utama adalah memastikan bahwa setiap individu yang lulus benar-benar memiliki pemahaman, keterampilan, dan sikap profesional yang memadai,” kata Yassierli di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenakaer), Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Yassierli menjelaskan bahwa kompetensi sesungguhnya bagi seorang ahli keselamatan kerja akan diuji langsung melalui situasi dinamis di lapangan, bukan sekadar di dalam ruang kelas. Masalah kecelakaan kerja dipandang sangat krusial karena berkaitan langsung dengan aspek kemanusiaan serta produktivitas bangsa.

Dampak dari insiden di tempat kerja tidak hanya berhenti pada persoalan teknis semata, melainkan juga menyentuh masa depan dan harapan keluarga pekerja. Transformasi industri saat ini, yang meliputi digitalisasi hingga efisiensi model bisnis, dinilai membawa risiko baru yang sering kali tidak kasat mata.

“Saudara adalah pihak yang memastikan bahwa kemajuan teknologi dan perubahan dunia kerja tidak mengorbankan keselamatan,” tutur Yassierli.

Menaker juga menyoroti tantangan konsistensi dalam pelaksanaan aturan K3 yang sering kali menjadi kendala utama di berbagai organisasi. Meskipun prosedur dan sistem sudah tersedia, pembentukan budaya keselamatan kerja sering kali masih tertinggal jauh di belakang.

“Banyak organisasi sudah memiliki prosedur, tetapi belum memiliki budaya. Banyak yang memiliki sistem, tetapi belum memiliki komitmen,” ujar Yassierli.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut mendorong para ahli agar mengasah kemampuan analitis dalam mendeteksi potensi bahaya sebelum terjadi risiko. Kemampuan komunikasi yang adaptif juga diperlukan agar pesan keselamatan dapat dipahami oleh seluruh lapisan pekerja.

“Tanpa ketiga hal ini, K3 akan tertinggal dari perkembangan industri,” ucap Yassierli.