Jakarta (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan guru dapat berperan menjadi teladan literasi digital bagi para peserta didiknya dan nantinya dapat menciptakan talenta digital berkualitas.
Hal itu disampaikan Meutya dalam kegiatan Fasilitasi Implementasi PP TUNAS di SMP Muhammadiyah 3 Depok, Sleman, Yogyakarta, Jumat, yang berlangsung secara daring.
"Saya percaya Bapak dan Ibu Guru dapat menjadi teladan dan pahlawan literasi digital bagi anak-anak didiknya. Bersama kita wujudkan generasi TUNAS yang cerdas, kreatif, tangguh, dan siap bersaing di era digital,” kata Meutya.
Dalam menjaga generasi muda di ruang digital, Pemerintah telah mengeluarkan regulasi berupa Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Selain menitiberatkan tanggung jawab platform menghadirkan ruang aman,dalam regulasi itu juga dijelaskan bahwa literasi digital adalah langkah selanjutnya yang harus dilakukan untuk memberikan pemahaman tepat kepada anak-anak agar bijak di ruang digital.
Baca juga: Menkomdigi tegaskan jurnalis jaga kebenaran di tengah arus informasi
Menurut Menkomdigi, tanpa pengawasan yang tepat, dampak jangka panjang kecanduan digital dapat mengancam kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Dengan fakta tersebut, literasi digital tidak boleh ditinggalkan dan justru harus dilakukan bahkan di lingkungan terdekat anak seperti sekolah.
Fasilitasi Implementasi PP Tunas turut menjadi salah satu program dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai bagian dari upaya masif memperkuat literasi digital di lingkungan pendidikan.
"PP Tunas hadir sebagai payung hukum yang melindungi anak dari berbagai risiko sekaligus membekali mereka dengan literasi digital," ujar Meutya.
Meutya menyebut ada empat ancaman utama yang dihadapi anak dan remaja di dunia digital, yang dikenal sebagai “4K”: Kontak tidak diinginkan dari orang asing, Konten negatif yang tidak sesuai usia, Kecanduan gawai dan media sosial, serta gangguan Kesehatan fisik dan mental.
Baca juga: Menkomdigi sebut pengendalian akses ruang digital untuk lindungi anak
Maka dari itu, 4K ini perlu dikenalkan dengan tepat kepada anak-anak Indonesia sehingga nantinya mereka tidak perlu mengalami dampak negatif tersebut saat berselancar di ruang digital.
“Kita ingin anak-anak bisa menjelajah dunia digital dengan aman. Kontak dari orang tak dikenal harus dicegah, konten berbahaya tidak boleh mudah muncul, kecanduan harus diatasi agar prestasi belajar tetap terjaga, dan kesehatan mereka — mulai dari mata hingga postur tubuh — harus terlindungi,” jelasnya.
Meutya berharap para guru bisa membagikan edukasi ini kepada murid-muridnya mengingat guru dalam dunia pendidikan adalah garda terdepan mendampingi anak-anak.
Membekali generasi muda dengan literasi digital yang tepat diharapkan bisa mendorong tumbuhnya talenta digital unggul, inovatif, serta berdaya saing.
“Teknologi adalah keniscayaan. Anak-anak kita akan hidup bersama kemajuan ini setiap hari. Tugas kita adalah membekali mereka agar bisa mengambil manfaat maksimal dan menghindari mudaratnya,” kata Meutya.
Baca juga: Kebijakan pembatasan akun lindungi anak dari kejahatan ruang digital
Baca juga: Menkomdigi sebut adopsi AI untuk pendidikan harus sesuai kesiapan anak
Baca juga: Menkomdigi: PP Tunas proteksi anak dari platform digital risiko tinggi
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·