Menteri Perdagangan Sebut Harga Minyak Goreng Naik Akibat Beban Kemasan

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengonfirmasi terjadinya tren kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik akibat lonjakan harga bahan baku kemasan plastik pada Kamis, 16 April 2026. Kenaikan ini juga dipicu oleh pergerakan harga minyak sawit mentah dunia yang terus merangkak naik.

Ketergantungan seluruh produk minyak goreng terhadap kemasan plastik menjadikan sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan penolong tersebut. Meski demikian, pemerintah dilansir dari Money menegaskan masih mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita di level Rp 15.700 per liter.

"Ya ada sedikit juga yang naik karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua,” kata Budi Santoso, Menteri Perdagangan, saat ditemui di JIExpo, Kemayoran. Ia menilai produsen saat ini masih memiliki kapasitas untuk menanggung selisih biaya produksi tersebut demi menjaga stabilitas harga nasional.

Kenaikan harga bahan baku ini bertepatan dengan gejolak geopolitik di Asia Barat yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut telah memicu lonjakan harga energi global yang berdampak langsung pada biaya produksi dan logistik komoditas pangan di dalam negeri.

Data dari Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) menunjukkan harga CPO di pasar global diperkirakan melonjak dari 1.165 dollar AS menjadi 1.440 dollar AS per ton pada April 2026. Tren penguatan ini diprediksi akan terus berlanjut hingga mencapai angka 1.783 dollar AS per ton pada Juni mendatang.

Terkait ketersediaan stok, Budi Santoso memastikan bahwa pasokan minyak goreng di pasar tradisional maupun ritel modern dalam kondisi mencukupi. Ia meminta masyarakat tidak hanya terpaku pada merek MinyaKita yang merupakan produk Domestic Market Obligation (DMO) dengan jumlah distribusi terbatas.

Kemendag mencatat bahwa persepsi masyarakat yang menjadikan MinyaKita sebagai indikator tunggal seringkali memicu kekhawatiran kelangkaan. Pemerintah pun mendorong produsen untuk memperbanyak produksi merek lapis kedua guna memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen di tengah tekanan harga global.