Meracik Uli Ketan, Merawat Harapan: Perempuan Inspiratif Menembus Keterbatasan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Irma, perempuan inspiratif penggerak UMKM di Desa Gunungleutik, Ciparay, Bandung. Foto: dok. kumparan/YouTube.

Momentum Hari Kartini tidak selalu berangkat dari narasi heroik yang besar. Semangat untuk hidup mandiri, berdaya, dan menembus keterbatasan tumbuh dari sosok-sosok Kartini masa kini yang menginspirasi.

Salah satunya Irma, perempuan inspiratif yang terus berjuang untuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Dari dapur kecilnya di Desa Gunungleutik, Ciparay, Bandung, Irma tekun menjajakan ulen ketan putih buatannya dari pintu ke pintu.

Lewat ulen ketan putih buatannya, Irma membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran dan penglihatan yang dialaminya tidak menjadi halangan untuk bisa berdaya membantu perekonomian keluarga. Stigma orang-orang yang meremehkannya justru memacu dirinya untuk terus mandiri dan berusaha.

“Ibu merasakan bagaimana dikucilkan dan disepelekan orang lain, sepertinya kita enggak bisa apa-apa. Kita buktikan sama mereka kalau kita juga bisa seperti mereka, tidak menunggu belas kasihan orang lain,” tegasnya.

Merawat Harapan dari Dapur Sederhana

Irma melawan stigma untuk tetap mandiri berusaha dan berdaya. Foto: dok. kumparan/YouTube.

Perjuangan Irma setiap hari dimulai dari dapur kecil di rumahnya. Dia biasanya mulai membuat ulen ketan putih sejak sore hari, agar bisa dijajakan pada pagi keesokan harinya. Dia berjalan menyusuri perkampungan hingga jalan raya menawarkan ulen ketan putih buatannya.

“Dari berangkat anak-anak sekolah setengah tujuh [pagi], ibu berangkat,” ungkapnya.

Rutinitas Irma berjualan menjadi cukup menantang karena dia mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan. Namun, kekurangan itu tidak sedikit pun melunturkan semangatnya untuk terus mandiri dan berdaya.

“Telinga ibu kurang dengar, terus mata ibu enggak jelas, rabun. Kalau baca harus [dari] dekat. Itu sudah ibu rasakan dari kecil. Ini bukan kemauan tapi takdir ibu, tapi alhamdulillah,” ujarnya.

Keberanian dan ketekunan Irma dalam berusaha tidak terlepas dari peran PNM (PT Permodalan Nasional Madani) dalam memberikan layanan permodalan berbasis kelompok bagi perempuan UMKM.

Sejak tahun 2019, Irma bergabung dengan program PNM Mekaar yang membuat usahanya memiliki pijakan untuk lebih tertata dan bertahan. Pinjaman kredit dari PNM membuatnya bisa lebih mandiri untuk tumbuh dan mendapatkan penghasilan tanpa harus merepotkan keluarga atau tetangga sekitarnya.

“Alhamdulillah dengan adanya pinjaman dari PNM ini, ibu bisa tumbuh dan juga bisa membantu orang-orang yang berkebutuhan khusus dan menginspirasi ibu-ibu di sini,” tutur Irma.

Tumbuh Bersama Menembus Keterbatasan

Irma menggerakkan kalangan disabilitas untuk bisa berdaya, percaya diri, dan produktif. Foto: dok. kumparan/YouTube.

Irma bukan hanya sosok yang giat berjuang untuk menghidupi perekonomian keluarga, tapi juga membantu orang-orang di sekitarnya khususnya kalangan disabilitas. Saat usahanya mulai stabil, Irma terjun langsung membantu dan mendampingi mereka untuk bisa berdaya, percaya diri, dan produktif.

Hal ini sejalan dengan program Tumbuh Bersama Peduli Sesama yang dilakukan oleh PNM, yakni inisiatif sosial yang bertujuan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi kelompok yang kurang beruntung atau memiliki keterbatasan.

Program ini berfokus pada pemberdayaan ekonomi dan sosial melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan, pendampingan, dan pemberian bantuan kepada individu atau kelompok yang membutuhkan.

“Alhamdulillah mereka mau, ibu juga jadi senang. Daripada mereka enggak ada kegiatan, gimana kalau jualan saja sama ibu, nanti ada penghasilan kan lumayan,” kata Irma.

Lewat perjuangan dan kepeduliannya, Irma membuktikan bahwa keterbatasan bisa berubah menjadi kemandirian yang bernilai. Bertumbuh bersama dengan keberanian, ketekunan dan kepedulian terhadap sesama.