Merawat Nalar Publik di Hari Kebangkitan Nasional

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Ilustrasi merawat nalar ruang publik. Foto: Generated by AI

Setiap tanggal 20 Mei, kita selalu diajak menoleh ke belakang. Mengingat kembali sebuah masa ketika kesadaran sebagai bangsa mulai tumbuh perlahan. Saat rakyat dari berbagai daerah, bahasa, dan latar belakang mulai merasa memiliki nasib yang sama: menjadi Indonesia.

Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar penanda lahirnya Boedi Oetomo atau catatan sejarah di buku pelajaran. Lebih dari itu, ia adalah pengingat bahwa perubahan besar dalam perjalanan bangsa ini selalu dimulai dari gagasan, pendidikan, dan keberanian untuk berbicara tentang masa depan.

Menariknya, kebangkitan Indonesia sejak awal lahir dari proses komunikasi. Dari ruang-ruang diskusi sederhana, tulisan yang menggugah pikiran, hingga percakapan tentang ketidakadilan yang perlahan membangunkan kesadaran kolektif. Para pendiri bangsa memahami bahwa sebelum rakyat bergerak, rakyat harus lebih dulu sadar.

Namun seratus tahun lebih setelah itu, kita hidup di zaman yang sangat berbeda. Hari ini, komunikasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mencerna maknanya. Informasi datang tanpa jeda. Notifikasi muncul hampir setiap menit. Semua orang bisa berbicara dalam waktu bersamaan. Ironisnya, di tengah dunia yang semakin terkoneksi, kita justru semakin mudah salah paham.

Media sosial memang membuka ruang demokrasi yang lebih luas. Siapa pun kini dapat menyampaikan pendapatnya. Namun di saat yang sama, ruang publik kita perlahan berubah menjadi arena reaksi cepat. Orang lebih mudah terpancing amarahnya daripada memahami dengan bijaksana. Potongan video sering kali dipercaya tanpa konteks. Judul yang provokatif lebih menarik perhatian dibanding penjelasan yang mendalam.

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Arsenii Palivoda/Shutterstock

Kita hidup di zaman ketika kemarahan lebih cepat viral dibanding kebijaksanaan. Akibatnya, percakapan publik terasa semakin melelahkan. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi kekayaan demokrasi justru berubah menjadi permusuhan. Banyak orang ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau mendengar.

Di titik inilah Hari Kebangkitan Nasional menjadi sangat relevan untuk direnungkan kembali. Karena sesungguhnya, kebangkitan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi. Ada hal yang jauh lebih mendasar: Apakah masyarakatnya masih mampu berpikir jernih di tengah banjir informasi? Apakah ruang publiknya masih memberi tempat bagi akal sehat, empati, dan percakapan yang bermartabat?

Nalar publik adalah fondasi yang sering tidak terlihat, tetapi sangat menentukan arah sebuah bangsa. Ketika masyarakat mudah diadu domba oleh hoaks, ketika kebencian lebih laris daripada gagasan, atau ketika kebenaran kalah oleh sensasi, yang melemah sebenarnya bukan hanya kualitas komunikasi kita, melainkan juga kualitas kebangsaan kita.

Karena itu, pendidikan menjadi sangat penting. Pendidikan hari ini tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menghafal informasi atau mengejar nilai akademik. Pendidikan harus mampu melatih daya pikir, kepekaan sosial, dan kemampuan memahami realitas secara lebih utuh. Di era digital, kemampuan berpikir kritis jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mengakses informasi.

Mulai dari keluarga sebagai tempat awal pendidikan hingga sekolah dan kampus memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi yang tidak mudah terprovokasi, tidak cepat percaya pada disinformasi, dan mampu berdialog secara sehat di tengah perbedaan. Sebab tanpa daya nalar yang kuat, teknologi justru bisa membuat masyarakat semakin mudah terseret dalam kebisingan opini dan konflik digital.

Ilustrasi komunikasi. Foto: Pexels

Dalam situasi seperti ini, komunikasi negara juga memegang peran yang tidak kecil. Di tengah masyarakat yang semakin kritis dan sensitif terhadap informasi, komunikasi negara tidak cukup hanya dengan menyampaikan program atau keberhasilan. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan rasa percaya dan aman.

Publik ingin merasa didengar, bukan sekadar diberi penjelasan. Mereka ingin merasakan kehadiran negara yang komunikatif, terbuka, dan mampu berbicara dengan bahasa yang lebih manusiawi. Sebab di era digital, jarak antara institusi dan masyarakat bukan lagi soal ruang, melainkan soal kedekatan emosional dalam komunikasi.

Ketika komunikasi terasa terlalu formal, terlalu kaku, atau hanya hadir saat dibutuhkan, masyarakat menjadi merasa jauh. Sebaliknya, komunikasi yang jujur dan dialogis justru mampu membangun rasa kebersamaan, bahkan di tengah banyak perbedaan.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama besarnya. Ruang digital tidak akan menjadi sehat hanya karena regulasi atau teknologi. Ia membutuhkan kedewasaan bersama. Literasi digital hari ini bukan sekadar kemampuan menggunakan media sosial, melainkan juga kemampuan mengendalikan emosi, memeriksa informasi, dan menyadari bahwa setiap kata yang kita sebarkan bisa memperkeruh atau menenangkan keadaan.

Generasi muda memiliki posisi penting dalam hal ini. Mereka bukan hanya pengguna internet paling aktif, melainkan juga penentu wajah komunikasi Indonesia di masa depan. Di tangan merekalah ruang digital bisa menjadi tempat bertumbuhnya kreativitas, solidaritas, dan pengetahuan, atau justru menjadi ruang yang penuh kebisingan tanpa arah.

Ilustrasi solidaritas. Foto: Getty Images

Kebangkitan nasional di era sekarang mungkin tidak lagi berbentuk perlawanan terhadap penjajahan fisik. Tantangan kita hari ini jauh lebih halus, tetapi sama seriusnya: menjaga akal sehat di tengah banjir informasi, menjaga empati di tengah polarisasi, dan menjaga kualitas dialog di tengah budaya saling menyerang.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling keras suaranya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga kualitas percakapannya. Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni atau unggahan media sosial semata.

Momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar koneksi internet yang cepat. Indonesia membutuhkan ruang publik yang sehat, masyarakat yang mampu berpikir kritis, dan komunikasi yang mampu mendekatkan, bukan memecah.

Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologinya, tetapi juga oleh seberapa dewasa cara warganya berbicara, mendengar, dan memahami satu sama lain.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising hari ini, menjaga nalar publik dan meningkatkan literasi adalah bentuk kebangkitan yang paling penting.