Kairo (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, Senin (25/5), secara terpisah berbicara melalui sambungan telepon dengan rekannya dari Uni Emirat Arab dan Siprus untuk mendiskusikan negosiasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Kairo mendorong solusi diplomatik untuk menghindari eskalasi regional.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Mesir mengatakan bahwa Abdelatty dan Menlu UEA Syekh Abdullah bin Zayed Al Nahyan membahas perkembangan cepat regional terkait proses negosiasi AS-Iran.
Melalui sambungan telepon, Abdelatty menegaskan pentingnya memprioritaskan diplomasi sebagai satu-satunya pilihan untuk menyelesaikan isu-isu yang belum terselesaikan dan melindungi kawasan tersebut dari risiko meluasnya konflik.
Dia juga menyebutkan bahwa setiap perjanjian pada masa mendatang harus mempertimbangkan masalah keamanan negara-negara Teluk guna menjamin keamanan nasional Arab serta mewujudkan perdamaian dan stabilitas regional.
Dalam percakapan telepon lainnya, Abdelatty dan Menlu Siprus Constantinos Kombos saling bertukar pandangan mengenai perkembangan proses negosiasi AS-Iran, serta perkembangan regional yang lebih luas dan berbagai cara untuk deeskalasi ketegangan.
Abdelatty memberikan penjelasan kepada menlu Siprus mengenai upaya yang sedang dilakukan Mesir untuk mencapai deeskalasi ketegangan melalui koordinasi dengan para mitra regional. Dia juga menyoroti perlunya mengintensifkan upaya regional dan internasional guna mendorong solusi diplomatik, agar kawasan tersebut tidak terperosok ke dalam fase instabilitas yang baru.
Sementara itu, menlu Siprus menyampaikan apresiasi negaranya atas berbagai upaya yang dilakukan Mesir untuk menciptakan ketenangan.
Iran dan AS mencapai gencatan senjata pada 8 April setelah pertempuran selama 40 hari. Menyusul gencatan senjata tersebut, kedua pihak kemudian menggelar satu putaran perundingan perdamaian di Islamabad pada 11 dan 12 April, namun, gagal membuahkan kesepakatan.
Selama beberapa pekan terakhir, kedua pihak dilaporkan saling bertukar beberapa usulan rencana yang menguraikan syarat-syarat perdamaian.
Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·