Jakarta (ANTARA) - Sayuran hijau tampak segar di rak penjualan. Cabai merah mengilap, tomat terlihat mulus tanpa bercak penyakit, sementara bawang merah tersusun rapi dengan kulit merahnya yang kering. Pemandangan seperti ini membuat kita percaya bahwa pangan yang hadir di meja makan sehari-hari berada dalam kondisi sehat dan aman.
Namun, di balik penampilan yang tampak sehat itu, para ilmuwan tanah, kesehatan, dan lingkungan mulai mengajukan pertanyaan yang jarang dipikirkan banyak orang: apakah terdapat logam berat di dalam produk pertanian yang kita konsumsi?
Pertanyaan itu lahir dari pengamatan di lapangan: petani yang berulang kali menyemprot tanaman dengan pestisida. Tingginya penggunaan pestisida, herbisida, dan fungisida ini menimbulkan kekhawatiran terhadap akumulasi logam berat, seperti Cu, Cd, Pb, dan As di tanah pertanian, terutama di kawasan vulkanis yang telah lama dibudidayakan secara intensif. Sebagian logam berat tersebut berasal dari bahan aktif komponen formulasi agrokimia.
Kandungan agrokimia
Akumulasi logam berat di tanah tidak terjadi dalam satu musim tanam. Ia berlangsung perlahan, hampir tidak teramati, mengikuti penggunaan agrokimia yang terus berulang dari tahun ke tahun. Di banyak kawasan hortikultura, pemakaian pupuk dan pestisida telah menjadi bagian dari keseharian petani untuk menjaga tanaman tetap produktif di tengah serangan hama, penyakit, dan cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Logam berat, seperti tembaga (Cu), kadmium (Cd), timbal (Pb), arsen (As), dan merkuri (Hg) dapat masuk ke tanah pertanian melalui pupuk, pestisida, air irigasi, deposisi atmosfer, hingga limbah industri. Dalam jumlah kecil beberapa unsur memang dibutuhkan tanaman. Tetapi sebagian lainnya bersifat toksik dan dapat terakumulasi perlahan di tanah maupun jaringan tanaman.
Fungisida berbasis tembaga, misalnya, banyak digunakan pada cabai, tomat, kentang, dan bawang merah. Tembaga dalam fungisida bekerja merusak sel dan sistem metabolisme jamur, sehingga penyakit tanaman yang menyerang daun, batang, maupun buah dapat ditekan. Namun, dalam jangka panjang, penggunaan berulang dapat menyebabkan akumulasi Cu pada lapisan atas tanah.
Selain fungisida, pupuk fosfat juga diketahui dapat membawa pengotor alami berupa Cd dan Pb. Berbeda dengan bahan organik yang dapat terurai, logam berat dapat bertahan di dalam tanah selama puluhan, hingga ratusan tahun. Sebagian logam akan terikat pada bahan organik dan mineral tanah, tetapi sebagian lainnya tetap tersedia dan perlahan dapat diserap oleh tanaman.
Hasil riset tim Universitas Andalas menunjukkan bahwa tanah hortikultura di kawasan Gunung Talang dan Gunung Marapi, Sumatera Barat, telah mengalami akumulasi logam berat yang berkaitan dengan kombinasi pengaruh material vulkanis dan aktivitas pertanian intensif.
Kandungan Cu tercatat relatif tinggi, berkisar sekitar 0.06–0.15 persen, menunjukkan akumulasi tembaga akibat penggunaan fungisida berbasis Cu yang dilakukan berulang pada budidaya hortikultura dataran tinggi seperti cabai, bawang merah, tomat, dan bawang prei.
Pb ditemukan pada kisaran rendah, sekitar 0.001–0.005 persen, tetapi tetap penting diperhatikan karena timbal dapat terakumulasi dalam tanah dan tanaman daun.
Kandungan As berada pada kisaran sekitar 0.001–0.003 persen, yang kemungkinan berasal dari residu pestisida tertentu yang mengandung arsen. Sementara itu, Cd ditemukan dalam konsentrasi sangat rendah, sekitar kurang dari 0.001 persen, namun tetap menjadi perhatian karena kadmium bersifat sangat toksik dan umumnya berasal dari pupuk fosfat yang digunakan secara intensif dalam sistem hortikultura.
Masuk ke tanaman
Tanaman sebenarnya tidak sepenuhnya pasif terhadap zat beracun yang masuk dari lingkungan. Akar memiliki kemampuan membatasi sebagian zat berbahaya, sementara sel tanaman dapat “menyimpan” sebagian logam berat pada jaringan tertentu agar tidak langsung merusak proses fisiologisnya. Namun, kemampuan alami ini tidak selalu mampu menghadapi tekanan pertanian modern yang menerima paparan agrokimia secara terus-menerus.
Masalahnya, beberapa logam berat memiliki sifat kimia yang mirip dengan unsur hara yang memang dibutuhkan tanaman. Kadmium, misalnya, dapat “menyamar” seperti seng, sedangkan arsenat memiliki kemiripan dengan fosfat. Karena kemiripan inilah akar tanaman kadang tidak mampu membedakan unsur hara dengan logam beracun, sehingga sebagian logam berat ikut terserap bersama air dan nutrisi tanah.
Sebagian logam kemudian tertahan di akar, tetapi sebagian lain perlahan bergerak menuju daun, buah, dan umbi. Sayuran daun, seperti bayam, kangkung, sawi, dan selada, termasuk yang relatif mudah mengakumulasi logam berat karena pertumbuhannya cepat dan permukaan daunnya luas.
Pada tomat dan cabai, residu pestisida dapat masuk melalui daun lalu bergerak menuju buah. Sementara itu kentang dan bawang merah memiliki kerentanan tersendiri karena bagian yang dipanen berkembang sangat dekat dengan tanah, tempat residu logam dan pestisida perlahan terakumulasi dari musim ke musim.
Pada tanaman hortikultura, residu pestisida tidak selalu hilang, sebelum panen. Sebagian masih menempel pada daun, cabai, tomat, dan bawang merah saat dibawa ke pasar. Pada pestisida sistemik, bahan aktif, bahkan dapat masuk ke jaringan tanaman dan sulit hilang melalui pencucian, terutama bila penyemprotan dilakukan terlalu dekat dengan masa panen.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·