MUI Tangerang Ingatkan Pentingnya Menjaga Kesucian Hati Saat Ibadah Haji

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Ibadah haji merupakan perjalanan suci yang dilakukan umat Muslim untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, seorang Muslim yang berangkat ke Tanah Suci sangat perlu meluruskan niat agar tidak terjebak pada tujuan wisata, mencari gelar, atau sekadar mendapatkan pujian.

Dikutip dari Cahaya, Ketua 1 MUI Kota Tangerang, Drs KH Amin Munawar, M.A, dalam khutbahnya mengingatkan bahwa haji harus dijalankan dengan hati yang suci. Niat utama harus ditujukan semata-mata karena Allah SWT sebagai bentuk pengabdian yang tulus.

Jamaah diajak untuk terus menjaga ketakwaan dan membersihkan hati selama berada di Tanah Suci. Menjadikan ibadah haji sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta menjadi poin krusial agar nilai spiritualitas ibadah tersebut tetap terjaga.

Berangkat ke Tanah Suci bukanlah sebuah perjalanan untuk rekreasi atau piknik. KH Amin Munawar menegaskan bahwa tujuan utama perjalanan ini adalah beribadah. Oleh karena itu, segala niat selain menyembah Allah SWT harus dihilangkan dari dalam pikiran jamaah.

Haji merupakan pilar kelima dalam rukun Islam yang hukumnya wajib bagi mereka yang mampu secara fisik maupun finansial. Kelalaian dalam menunaikan kewajiban ini tanpa alasan syar’i yang jelas merupakan sebuah dosa besar bagi umat Muslim.

Khatib mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ؛ فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا

"Barang siapa memiliki bekal dan kendaraan yang cukup untuk mengantarkannya ke Baitullah, namun ia tidak berhaji, maka tidak mengapa ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani."

Pentingnya Meluruskan Niat dan Kesucian Hati

Penyucian hati dan pelurusan niat menjadi fondasi utama dalam melaksanakan perjalanan ke Makkah dan Madinah. Islam sebagai agama fitrah sangat menekankan pada pemeliharaan kesucian, mulai dari saat manusia lahir hingga kembali kepada Sang Khalik.

Khatib menekankan bahwa ketundukan dalam beribadah hanya ditujukan kepada Allah yang Mahasuci. Dengan memelihara kesucian niat, diharapkan jamaah bisa mendapatkan ganjaran terbaik berupa surga di akhirat kelak.

Ada kerugian besar bagi mereka yang berangkat haji dengan niat duniawi. Meskipun telah menghabiskan biaya besar dan tenaga ekstra, bangunan ibadah tersebut bisa runtuh jika niat dasarnya sudah rusak sejak awal.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari disebutkan:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.”

Dampak Buruk Niat yang Salah dalam Haji

Terdapat beberapa kerugian nyata jika seseorang pergi ke Tanah Suci bukan karena ibadah. Pertama adalah hilangnya nilai ibadah atau kesia-siaan, karena Allah tidak menerima amal yang dicampuri dengan sifat riya (ingin dipuji) atau sum'ah (ingin populer).

Kedua, terjadi pemborosan atau materi yang mubazir. Haji yang menggabungkan pengorbanan fisik dan harta akan kehilangan nilainya jika hanya demi gelar atau sekadar dokumentasi foto di depan Ka'bah.

Ketiga, jamaah berisiko tidak mendapatkan ampunan. Tujuan utama ke Tanah Suci adalah bertaubat, namun niat yang salah justru dapat menambah dosa akibat kesombongan atau pamer ibadah.

KH Amin Munawar mengingatkan dalam surat An-Nahl ayat 128:

إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

"Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."