Nasaruddin Umar Sebut Pemberian Tulus Bukan Bagian Gratifikasi

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa pemberian yang didasari ketulusan tidak dapat selalu dikategorikan sebagai gratifikasi saat menghadiri peringatan HUT ke-219 Keuskupan Agung Jakarta di Gereja Katedral Jakarta, Sabtu (9/5/2026). Penegasan ini disampaikan melalui narasi kisah Nabi Muhammad SAW yang menerima pemberian dari warga.

Dilansir dari Detikcom, Nasaruddin menceritakan momen ketika Nabi Muhammad menolong seekor induk kijang yang terikat di depan rumah seorang warga Arab. Induk kijang tersebut memohon bantuan agar ikatannya dilepaskan supaya bisa mencari makan dan menyusui anak-anaknya yang baru lahir.

"Kijangnya manggil: 'Ya, Nabi, Nabi, Nabi, tolong ikatan leher saya ini dibuka'. Induk kijang besar tuh. Pengawal Nabi, sahabat Nabi (bertanya) 'Kenapa berhenti?', 'Anda tidak tahu bahasanya kijang, saya tahu artinya. Dia berteriak memanggil saya'. Artinya apa? Tolong saya, tali ikatan leher saya ini dilepas," kata Nasaruddin menirukan percakapan Nabi Muhammad.

Kisah berlanjut saat pemilik kijang menyadari keberadaan Nabi di kediamannya dan merasa bangga atas kunjungan tersebut. Pemilik itu kemudian secara sukarela menyerahkan hewan tersebut kepada Nabi Muhammad sebagai bentuk penghormatan.

"Begitu Nabi mengikatkan lehernya, datang yang punya, 'Ya, Nabi, ada apa engkau kamu datang ke tempat kami? Satu kebanggaan. Kenapa kau pegang kijang itu? Kalau Anda ingin ambil, ambil. Ambil kijang itu, di sini insya Allah kami bisa tangkap lagi'," katanya.

Nasaruddin mengambil inti sari dari kejadian tersebut untuk menjelaskan perbedaan antara hadiah tulus dan gratifikasi dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Ia menilai aspek niat menjadi pembeda utama dalam setiap pemberian.

"Ini pembelajaran Bapak, Ibu, kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih," kata Nasaruddin.

Menteri Agama menambahkan bahwa Nabi Muhammad menunjukkan sikap teladan dalam menghargai pemberian orang lain. Nabi disebut membawa sendiri kijang tersebut sebagai bentuk penghormatan langsung kepada sang pemberi tanpa melibatkan bantuan staf.

"Itu caranya seorang tokoh yang baik menghargai pemberian orang. Dia nggak minta ajudannya, asistennya, 'tolong ambil itu'. Dia sendiri yang bawa kijang itu," ujarnya.

Kendati telah diterima, Nabi Muhammad pada akhirnya memutuskan untuk melepaskan kembali kijang tersebut ke alam liar. Langkah ini diambil atas pertimbangan kelestarian hewan dan tanggung jawab induk terhadap anak-anaknya.

"Biarkan dia kembali membesarkan anak-anaknya. Ini hewan langka," tutur Nasaruddin menirukan ucapan Nabi Muhammad.

Sebagai penutup dalam pesan kemanusiaannya, Nasaruddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama makhluk hidup. Ia meyakini kasih sayang kepada alam akan mendatangkan kebaikan bagi manusia.

"Mari kita menyayangi binatang, mari kita menyayangi burung, dan kalau kita menyayangi semua, langit pun akan sayang terhadap kita," katanya.

Acara di Gereja Katedral tersebut turut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung serta Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo bersama sejumlah tokoh lintas agama lainnya.