NCAA Perketat Aturan Kelayakan Pemain Internasional di Bola Basket Kuliah

Sedang Trending 32 menit yang lalu

Asosiasi Atletik Perguruan Tinggi Nasional (NCAA) mendistribusikan panduan baru mengenai persyaratan kelayakan pendaftaran pemain pada 8 Mei lalu untuk memperketat aturan bagi atlet internasional dengan pengalaman profesional. Langkah ini berpotensi membatalkan status kelayakan sejumlah talenta asing yang telah berkomitmen dengan program bola basket kuliah di Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan Sports Illustrated, regulasi terbaru ini menyasar para calon atlet yang pernah mengikat kontrak, bertanding, atau menerima kompensasi dari tim profesional di liga yang menerapkan standar gaji minimum di atas biaya pengeluaran wajar. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran besar di kalangan pelatih dan pemain karena berisiko memotong masa kelayakan bermain atau bahkan menutup kesempatan mereka sepenuhnya.

"Actual and necessary expenses continue to be a factor in a prospect’s eligibility, but as part of that broader effort to update preenrollment rules, the NCAA also identified several international leagues in which participation by a prospect is likely to result in violations of NCAA rules and a loss of eligibility," kata juru bicara NCAA kepada Sports Illustrated.

Pihak asosiasi juga menegaskan bahwa modernisasi buku peraturan ini dilakukan demi memastikan kompetisi antarperguruan tinggi tetap dimainkan oleh atlet amatir.

"The Association is modernizing the rule book in several ways to ensure college sports are played by college athletes and not used as a fallback for professional athletes, and the age-based eligibility model now under consideration is designed to address many member schools’ concerns regarding eligibility," tambah juru bicara NCAA.

Sejumlah pemain EuroLeague seperti Quinn Ellis, Saliou Niang, Marcio Santos, dan Mantas Rubstavicius telah berkomitmen untuk musim 2026–2027 dengan nilai kesepakatan hak citra (NIL) dan pembagian pendapatan yang besar. Namun, karena EuroLeague menetapkan gaji minimum bagi pemain tahun pertama sebesar 50.000 euro bersih yang melebihi batas pengeluaran wajar NCAA, posisi para pemain tersebut kini terancam.

"Why would you do this midstream when there’s a hundred million dollars out on the street?" kata salah satu kepala pelatih yang merekrut pemain internasional musim semi ini kepada Sports Illustrated.

Dampak regulasi baru ini juga menjalar hingga ke Liga Bola Basket Australia (NBL), di mana beberapa pemain muda seperti Owen Foxwell dan Tristan Devers telah berkomitmen masing-masing ke Wisconsin dan Washington. Pendiri Draft Express, Jonathan Givony, ikut menyoroti kebijakan ini melalui media sosial karena dianggap menutup pintu bagi talenta internasional yang pernah bermain di liga top dunia.

"The NCAA's new (very poorly timed) rule sends a clear message: international players are no longer welcome in the college game. ACB, France, Italy, Australian NBL and anyone who's ever played for a EuroLeague team, even for next to nothing, are suddenly permanently ineligible?" tulis Jonathan Givony.

Mantan bintang bola basket kuliah dan juara NBL, Pete Hooley, menilai bahwa perubahan ini mendadak dan tidak adil bagi para pemain muda yang mengambil keputusan karier berdasarkan aturan lama yang longgar.

"While the end goal of this new change is the correct one, the timing of this abrupt change isn’t fair," ujar Pete Hooley kepada NBL.com.au.

Menurut Hooley, para atlet muda tersebut tidak sepatutnya dihukum atas pemanfaatan celah aturan yang sebelumnya diizinkan oleh NCAA.

"Guys like Owen Foxwell and Tristan Devers, should not be suddenly punished for taking advantage of the ridiculous rules the NCAA originally had in place," kata Pete Hooley.

Ia menambahkan bahwa membiarkan para pemain tersebut tanpa kejelasan setelah masa rekrutmen berjalan adalah tindakan yang keliru.

"These young kids have made huge career decisions based on the fact that the NCAA had been allowing them to do so. So, any immediate change that would leave them high and dry is completely unfair," tutur Pete Hooley.

Meskipun mengkritik momentum pelaksanaannya, Hooley sepakat bahwa aturan kelayakan di tingkat universitas memang harus dibenahi agar kompetisi kembali ke esensi awalnya.

"In the end, these types of changes are 100% needed, because college sports had become farcical in terms of who could be eligible," jelas Pete Hooley.

Hooley menyatakan bahwa olahraga kampus harus diprioritaskan bagi mahasiswa sejati, bukan mantan pemain draf NBA yang mencari keuntungan finansial.

"College sports needs to get back to young student athletes playing, rather than 25-year-old former NBA draft picks who just want a nice bag of cash," ujar Pete Hooley.

Ia mengenang masa lalunya untuk menunjukkan betapa ketatnya aturan NCAA sebelum era NIL diberlakukan.

"In 2015, our starting big man accepted a free burrito after we advanced to the championship game. He was found guilty of breaching the rules and subsequently suspended for the big game," kata Pete Hooley.

Di sisi lain, kepala pelatih Michigan State, Tom Izzo, menyambut positif langkah pengetatan ini melalui laporan Spartan Avenue. Izzo dan beberapa pelatih lain sebelumnya vokal mengkritik program-program sekolah seperti LSU yang dinilai memanfaatkan celah regulasi untuk mendatangkan mantan pemain profesional dan mengacaukan iklim kompetisi amatir.