Legenda Persib Bandung Sutiono Lamso mengenang kembali momen dramatis final Liga Indonesia 1994/1995 di tengah peluang skuad asuhan Bojan Hodak mencetak hattrick juara pada laga terakhir musim 2025/2026, Sabtu (23/5/2026).
Persib Bandung kini hanya membutuhkan hasil imbang melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api untuk memastikan gelar hattrick setelah meraih sukses back to back pada musim sebelumnya. Momentum bersejarah ini memicu antrean panjang para Bobotoh yang berburu jersey dan merchandise di Graha Persib, Jalan Sulanjana, Bandung, pada Jumat (22/5/2026).
Kondisi ini mengingatkan Sutiono Lamso pada atmosfer final kompetisi edisi pertama penggabungan Perserikatan dan Galatama di Stadion Utama Senayan Jakarta, Minggu 30 Juli 1995. Saat itu, Persib Bandung berhasil menundukkan Petrokimia Putra dengan skor tipis 1-0 lewat gol tunggal Sutiono pada menit ke-79.
"Sangat spesial sekali. Karena Perserikatan dan Galatama disatukan jadinya Liga Indonesia. Yang pertama itu, ya tahun 1994/1995. Saat kita bikin gol dan kita juara, ya saya sangat antusias sekali ya waktu itu," ujar Sutiono Lamso saat diwawancarai via kanal YouTube Bicara Bola yang dilansir Bola.com.
Sutiono mengingat betul bagaimana antusiasme tinggi dari para pendukung yang memadati stadion dan langsung mencari keberadaannya bahkan sebelum pertandingan dimulai.
"Begitu pulang, saya juga diarak. Sebelum datang ke stadion juga saya sudah dicari-cari sama penonton. Mereka bilang,'Mana Sutiono, mana Sutiono'. Alhamdulillah, saya bisa bikin gol ya," kata Sutiono Lamso yang membela Persib sejak tahun 1988 hingga pensiun tahun 2000.
Keberhasilan merengkuh trofi tersebut menjadi tonggak sejarah yang sangat ikonik lantaran Persib murni mengandalkan kekuatan pemain lokal di tengah gempuran tim lawan yang bertabur legiun asing.
"Ya, sangat meriah sekali waktu itu. Jadi tonggak sejarah Persib, kita jadi bintang satu. Itu awalnya bintang satu di jersey Persib. Tanpa pemain asing. Pemain lokal semua. Tapi musuhnya pemain asing," ucap Sutiono Lamso menambahkan.
Sutiono membeberkan bahwa dominasi suporter Pangeran Biru di tribun Stadion Gelora Bung Karno kala itu menjadi pelecut motivasi terbesarnya untuk membongkar pertahanan Petrokimia Putra.
"Banyaklah ya, momen-momen waktu itu. Pokoknya saya sebagai pemain depan, apalagi karena Bobotoh yang sangat besar sekali ya. Mayoritas 90 persen itu, Stadion Gelora Bung Karno sudah dikuasai oleh Persib," kata Sutiono Lamso.
Mantan penyerang legendaris ini juga menceritakan detail taktiknya mengecoh penjaga gawang asing lawan setelah menerima umpan matang dari gelandang lincah Yusuf Bachtiar.
"Akhirnya ada momen. Waktu itu ada umpan dari Kang Yusuf di depan gawang, enggak saya shooting. Kalau saya tembak, reflek kipernya bagus. Itu kipernya pemain asing. Kalau saya shooting, pasti kena blok," tutur Sutiono Lamso.
Aksi tipuan cerdik tersebut berhasil membuat bola meluncur mulus ke dalam gawang lawan sekaligus memecah kebuntuan di laga puncak.
"Makanya, begitu saya pura-pura nembak, saat kipernya mulai gerak, baru saya shooting. Bolanya masuk gawang sangat lambat. Karena kalau langsung saya shooting pasti kena blok karena refleksnya bagus," ujar Sutiono Lamso menjelaskan proses golnya.
Kunci keberhasilan taktik tersebut rupanya berkat pengamatan mendalam yang dilakukan tim asuhan Indra Thohir sejak pertemuan pertama di babak penyisihan grup.
"Itu dari apa? Dari pengalaman main pertama kan kita sebetulnya pas penyisihan ketemu Petrokimia Putra juga. Soalnya kita satu grup. Kan jadi lebih mengenal. Pas main pertama itu di penyisihan, hasilnya kosong-kosong kalau enggak salah," ucap Sutiono Lamso.
Evaluasi menyeluruh dari pertandingan pertama membuat barisan depan Maung Bandung lebih memahami celah dan kelemahan lini belakang lawan pada partai final.
"Makanya, pas main keduanya baru kita tahu. Oh ini, caranya seperti ini. Kelemahannya mungkin di sini. Kita coba terus pokoknya," tutur Sutiono Lamso.
Sesaat setelah gol tercipta, situasi stadion menjadi tidak terkendali karena ribuan Bobotoh yang berada di sentel ban langsung merangsek masuk ke area lapangan pertandingan.
"Waktu saya bikin gol, penonton kayaknya sudah masuk ke dalam lapangan. Saking apa ya, senangnya. Bobotoh itu, sampai wah, saya juga, sudah itu kan diamankan juga karena pertandingan belum selesai. Banyak kuda-kuda kalau enggak salah waktu itu, yang di pinggir lapangan untuk mengamankan penonton. Karena di sentel ban pononton sudah banyak waktu itu," kenang Sutiono Lamso.
Begitu peluit panjang ditiup, Sutiono langsung dikerumuni suporter hingga pakaian bertandingnya habis diambil oleh para penggemar yang merayakan pesta juara.
"Begitu pertandingan selesai, saya sudah enggak biasa apa-apa. Semua masuk ke lapangan. Saya diangkat. Kaus saya dibuka, diambil. Celana juga sudah mau diambil. Bahaya kalau celana sampai diambil. Ya sudah, kaus saja enggak apa-apa," kata Sutiono Lamso seraya tertawa.
Selain final legendaris tersebut, Sutiono juga memiliki catatan manis pada kompetisi reguler, salah satunya saat membungkam Persija Jakarta 2-1 di Stadion Siliwangi pada 21 Mei 1995 lewat gol penentu di menit ke-89.
Kekuatan Persib kala itu bertumpu pada kebugaran fisik prima di bawah arahan Indra Thohir serta kekompakan tim yang sudah terbangun sejak era kompetisi Perserikatan.
"Yang jelas, kita kan tanpa pemain asing. Mungkin kalau saya, ada pemain lokal ada pemain asing, masih bisa ngandalkan nih. 'Ini saya punya pemain asing mungkin bisa ngebantu saya'. Nah, terus, sementara kita kan enggak ada pemain asing. Apa yang harus kita lakukan?" ujar Sutiono Lamso.
Kombinasi ketahanan fisik dan chemistry antarpemain membuat Persib tetap tampil digdaya saat berhadapan dengan klub kaya yang diperkuat bintang dunia seperti Roger Milla di Pelita Jaya atau Dejan Gluscevic di Bandung Raya.
"Otomatis, kita jelas, kebugaran itu harus kita jaga. Terus, yang kedua, kekompakan. Jadi dengan kekompakan dan kebugaran yang bagus, kita bisa mengatasi tim-tim lawan. Misalnya, ada pemain asing nih. Kita misalnya ketemu sama Pelita Jaya, waktu itu ada Maboang Kessack, Roger Milla. Pemain dunia itu kan," ucap Sutiono Lamso.
Rasa percaya diri yang tinggi menjadi modal utama para pemain lokal Persib untuk tidak gentar menghadapi nama besar pemain-pemain asing di kancah sepak bola nasional.
"Di Bandung Raya ada Olinga Atangana, ada Dejan Gluscevic. Itu di kandang kita main lawan Dejan. Tapi, kita ya enggak kalah walaupun Persib pemain lokal semua. Ya itu tadi, karena kita punya daya tahannya kuat ditambah kekompakan," kata Sutiono Lamso menegaskan.
Kombinasi skuad yang tidak banyak berubah sejak kompetisi amatir membuat kerja sama antarlini di lapangan berjalan sangat cair dan solid.
"Karena tim ini kan dari era Perserikatan, terus bertahan sampai ke Liga. Jadi kita sudah lama bergabungnya. Satu sama lainnya sudah saling tahu," ujar Sutiono Lamso.
Perjalanan karier Sutiono di Bandung dimulai saat merantau dari Purwokerto pada akhir 1988 dan bergabung dengan klub Produta yang berlaga di kompetisi internal Persib.
"Saya pertama kali datang ke Bandung itu pada 1988 akhir. Kami datang dari Purwekerto. Terus masu klub Produta. Dulu kan anggota Persib tuh. Ada kompetisi internal Persib," kata Sutiono Lamso.
Ketajamannya langsung memikat tim pemandu bakat setelah ia sukses melesakkan total tiga gol pada dua pertandingan awal liga internal.
"Karena waktu itu, Persib mengambil pemain dari anggotanya. Makanya saya masuk ke Produta. Begitu saya main, sekali main sudah bikin dua gol. Main keduanya bikin gol lagi," tutur Sutiono Lamso menceritakan awal kariernya.
Naluri mencetak gol yang tinggi tersebut membuat pelatih legendaris Nandar Iskandar langsung mempromosikannya ke skuad utama senior tanpa waktu lama.
"Nah, di situ kita langsung dipanggil pelatih, waktu itu Pak Nandar Iskandar. Dia minta saya untuk bergabung ke tim senior Persib. Saya juga kaget. Dua kali main langsung dipanggil ke Persib. Antrar percaya enggak percaya," kata Sutiono Lamso mengenang masa mudanya.
Bagi Sutiono yang saat itu baru menginjak usia 22 tahun, kesempatan membela panji Pangeran Biru merupakan perwujudan mimpi masa kecilnya.
"Persib itu tim idola saya waktu kecil. Saya sempat berpikir,'Benar nih'. Kayak mimpi gitu, kita bisa gabung dengan tim senior. Saya berumur 22 tahun ketika itu," ujar Sutiono Lamso.
Pada musim perdananya di kompetisi Perserikatan, pemain kelahiran 19 Agustus 1966 ini langsung membuktikan kualitasnya dengan sumbangan delapan gol.
"Dulu itu, pertama main di Perserikatan. Saya sudah bisa bikin gol banyak, ada delapan. Tapi karena banyak pemain yang golnya sama, jadi akhirnya enggak diadakan," kata Sutiono Lamso terkait penghargaan top skor kala itu.
Ketajaman Sutiono kian teruji hingga berhasil membawa Persib menembus final Piala Utama tahun 1992 menghadapi Pelita Jaya dan keluar sebagai pencetak gol terbanyak turnamen.
"Nah, baru waktu Perserikatan 1994, eh Piala Utama dulu. Kita dulu, sebelum ada liga, ada Piala Utama. Empat besar Galatama, empat besar Perserikatan. Kita waktu itu masuk final sama Pelita Jaya, tahun 1992," ucap Sutiono Lamso.
Atas prestasi individu tersebut, Sutiono diganjar hadiah uang tunai sebesar Rp15 juta yang kemudian ia bagikan kepada rekan-rekan setimnya.
"Dari 1992 ke 1993, saya top skornya. Saingan saya waktu kalau enggak salah Alexander Saununu. Dapat hadiah uang Rp15 juta. Buat saya sebagian, sebagian lagi saya bagi-bagi sama teman-teman," tutur Sutiono Lamso.
Kini, setelah menyelesaikan masa baktinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sang legenda memilih kembali ke pinggir lapangan untuk mendedikasikan ilmunya sebagai pelatih sepak bola generasi muda.
"Saya sekarang sudah pensiun nih. Dulu PNS. Begitu pensiun main bola, kita terus kerja jadi PNS. Nah, sekarang sudah pensiun. Saya kembali lagi ke lapangan, jadi pelatih. Jiwa saya memang di bola," ujar Sutiono Lamso menutup pembicaraan.
Dilansir dari laporan inikata.co.id, berikut adalah rekam jejak prestasi emas yang ditorehkan Sutiono Lamso selama 12 tahun pengabdiannya bersama Persib Bandung.
| Juara Perserikatan | 1989/1990, 1993/1994 | Gelar ganda di era amatir menuju profesional. |
| Juara Liga Indonesia | 1994/1995 | Edisi pertama penggabungan Perserikatan & Galatama. |
| Pemain Terbaik | 1993/1994 | Penghargaan individu tertinggi di liga nasional. |
| Top Skor Piala Utama | 1992 | Mencetak gol terbanyak mengalahkan pemain top lain. |
| Pahlawan Final | 1995 | Pencetak gol tunggal kemenangan di laga final. |
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·