New York City FC (NYCFC) berupaya merebut posisi ketujuh klasemen Wilayah Timur Major League Soccer (MLS) saat menghadapi Charlotte FC di Bank of America Stadium pada Rabu, 13 Mei 2026. Pertandingan yang dimulai pukul 19.15 waktu setempat ini mempertemukan dua tim yang sama-sama mengantongi 15 poin dari 12 laga perdana musim ini.
Tim tamu memiliki modal kepercayaan diri tinggi setelah menghancurkan Columbus Crew dengan skor telak 3-0 melalui hattrick Hannes Wolf. Sementara itu, Charlotte FC baru saja menyelesaikan laga imbang 2-2 melawan FC Cincinnati, sehingga NYCFC saat ini unggul dalam selisih gol meskipun catatan menang-kalah kedua tim identik.
Pelatih Kepala New York City FC, Pascal Jansen, menganggap kemenangan pekan lalu sebagai titik balik penting bagi mentalitas timnya. Jansen menekankan bahwa performa solid di kedua sisi lapangan menjadi kunci keberhasilan memutus tren negatif sebelumnya.
"[It was a] job well done on both ends," ujar Pascal Jansen, Pelatih Kepala New York City FC.
Jansen meminta para pemainnya untuk tetap rendah hati dan menjadikan fase ketiga musim reguler ini sebagai ajang perbaikan standar tim. Ia mengingatkan bahwa performa mereka pada blok kedua kompetisi masih jauh dari harapan manajemen dan pendukung.
"For us, it’s a fresh start going into the third block of this season within the MLS, but we have to remain very humble because our achievements in the second block were way below our standards," lanjut Pascal Jansen.
Pelatih asal Belanda tersebut juga merujuk pada kekalahan dari Charlotte di New York pada April lalu sebagai pelajaran berharga mengenai efektivitas penyelesaian akhir. Saat itu, NYCFC gagal mencetak gol meski melepaskan 23 tembakan, sementara lawan mampu mencuri poin.
"How do we prevent ourselves from going back in time?" tambah Pascal Jansen.
Ia menuntut ketajaman lini depan tetap terjaga demi mengantisipasi skema permainan lawan yang sering kali mampu mencetak gol hanya dari satu peluang tepat sasaran. Jansen menilai efektivitas akan menjadi pembeda utama dalam laga tandang kali ini.
"The games against Charlotte and Cincinnati stand out ... If you score four goals against Cincinnati the way we did, that can never be a draw. If you have Charlotte here in New York and they have zero shots on target, but we’re not clinical in finishing our own moments, one shot on target may be enough," tegas Pascal Jansen.
Faktor mentalitas saat transisi permainan dianggap Jansen sudah mengalami peningkatan yang signifikan pada pertandingan terakhir. Ia meyakini sikap disiplin para pemain saat menguasai maupun kehilangan bola akan sangat membantu dalam menghadapi jadwal padat ke depan.
"That’s something we’re very aware of going into this third block of games. The mentality we showed [on Sunday] on and off the ball was better, and that helps going forward," kata Pascal Jansen.
Di sisi lain, Pelatih Charlotte FC Dean Smith menargetkan poin penuh guna memaksimalkan rangkaian empat laga kandang sebelum kompetisi memasuki jeda internasional. Smith ingin memastikan posisi timnya aman di papan tengah sebelum masa rehat dimulai.
"The players know that we could set ourselves up with four home games," ujar Dean Smith, Pelatih Charlotte FC.
Ambisi besar diusung oleh klub berjuluk The Crown ini untuk memberikan hasil maksimal bagi para pendukungnya di Stadion Bank of America. Smith optimistis skuadnya bisa menutup fase kompetisi ini dengan raihan poin yang kompetitif.
"We could set ourselves up really well for the break, and that’s what we’re aiming to do," kata Dean Smith.
Namun, kekuatan Charlotte FC berkurang seiring absennya kapten tim Ashley Westwood akibat akumulasi kartu kuning. Smith menyatakan bahwa sanksi tersebut sangat merugikan tim karena keputusan wasit dalam memberikan kartu dinilai kurang tepat.
"The availability for Wednesday will be as-was, with the exception we won’t have Ashley Westwood," ucap Dean Smith.
Kekecewaan Smith muncul karena ia menganggap dua kartu kuning terakhir yang diterima sang gelandang merupakan hasil dari penilaian wasit yang kurang objektif. Kondisi ini memaksa tim pelatih untuk mencari alternatif pengatur serangan di lini tengah.
"I believe that his fifth yellow card, the last two yellow cards he’s received, in my opinion, have been farcical," tutur Dean Smith.
Sebagai solusi, Smith telah menyiapkan Brandt Bronico, Luca de la Torre, serta pemain muda Aron John untuk mengisi kekosongan peran pemimpin di lapangan. Ia berharap para pemain tersebut mampu menunjukkan tanggung jawab besar guna menutupi hilangnya pengalaman Westwood.
"We’ve got lads who are waiting in the wings who are ready to play," jelas Dean Smith.
Smith menambahkan bahwa komunikasi antar pemain menjadi aspek krusial yang harus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas permainan tim. Ia mendorong para pemain pengganti untuk berani memimpin rekan-rekannya selama pertandingan berlangsung.
"We’ve got BB, we've got Luca, we've got Aron John, who's done really well and come through [Crown] Legacy. What you lose is [Westwood’s] leadership and an experience. Other people have to come and stand up and lead," papar Dean Smith.
Fokus peningkatan juga menyasar sektor pertahanan, sebagaimana ditegaskan oleh bek David Schnegg yang menginginkan agresivitas tim sejak awal laga. Schnegg menuntut rekan-rekannya tidak menunggu dalam posisi tertinggal untuk mulai menekan lawan.
"I think that’s something we are working on, to be that aggressive the whole game, not once you down 2-0," kata David Schnegg, bek Charlotte FC.
Pemain belakang tersebut menjelaskan bahwa timnya tengah mengasah konsistensi intensitas dalam setiap sesi latihan. Menurut Schnegg, kepercayaan diri pemain menjadi kunci utama dalam mengeksekusi strategi yang telah disusun pelatih.
"Just being more confident in our game. I don’t think we did a lot of different things, just everything with more with more intensity," ujar David Schnegg.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·