Penelitian terbaru oleh ilmuwan asal China dan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa partikel mikroplastik yang melayang di atmosfer bumi turut memicu kenaikan suhu planet dan memperparah dampak perubahan iklim pada Selasa, 5 Mei 2026. Temuan ini menyoroti bagaimana polusi plastik kecil tersebut menyerap sinar matahari saat terbawa angin ke seluruh dunia.
Data yang dilansir dari Bloombergtechnoz menunjukkan bahwa polusi plastik di udara memiliki kapasitas memerangkap panas sebesar 16,2% dari karbon hitam. Karbon hitam selama ini dikenal sebagai kontributor pemanasan global terbesar kedua setelah karbon dioksida. Laporan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change pada Senin kemarin.
Hongbo Fu, ilmuwan atmosfer di Universitas Fudan di Shanghai sekaligus salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa polusi plastik kini telah menjangkau wilayah yang tidak terlihat secara kasat mata. Hal ini menjadi peringatan serius bagi para pengamat iklim dunia.
“Masalah plastik bukan hanya di lautan biru kita, tetapi juga di langit tak terlihat di atas kita,” kata Hongbo Fu, salah satu penulis studi dan ilmuwan atmosfer di Universitas Fudan di Shanghai.
Peneliti menekankan pentingnya merevisi standar perhitungan pemanasan bumi yang selama ini digunakan. Masuknya unsur polusi plastik di udara menjadi variabel baru yang krusial dalam memprediksi kondisi lingkungan di masa depan.
“Model iklim perlu diperbarui.” ujar Hongbo Fu, salah satu penulis studi dan ilmuwan atmosfer di Universitas Fudan di Shanghai.
Dampak pemanasan ini terdeteksi sangat signifikan di wilayah dengan akumulasi plastik tinggi, seperti Samudra Pasifik. Di kawasan tersebut, partikel plastik dilaporkan memiliki dampak 4,7 kali lipat lebih besar dibandingkan karbon hitam dalam memerangkap suhu panas.
Drew Shindell, ilmuwan iklim dari Universitas Duke, menyatakan bahwa penelitian ini memberikan sudut pandang baru mengenai sifat partikel plastik di udara. Eksperimen laboratorium membuktikan bahwa warna pada partikel plastik memainkan peran vital dalam menyerap radiasi matahari.
“Efek bersihnya adalah pemanasan,” kata Drew Shindell, seorang ilmuwan iklim di Universitas Duke.
Shindell menambahkan bahwa meskipun ada partikel yang berwarna terang, seiring berjalannya waktu partikel tersebut akan menggelap akibat faktor usia di atmosfer. Kondisi ini secara konsisten meningkatkan laju penyerapan panas di lapisan udara bumi.
“Kita membutuhkan lebih banyak pengukuran dari seluruh dunia untuk benar-benar mengkarakterisasi secara lebih tepat seberapa banyak zat tersebut berada di atmosfer,” kata Drew Shindell, seorang ilmuwan iklim di Universitas Duke.
Fenomena cuaca ekstrem seperti topan dan siklon tropis juga memperburuk situasi dengan mengangkat lebih banyak mikroplastik ke atmosfer melalui angin kencang. Berdasarkan catatan penelitian, topan super yang terjadi pada tahun 2023 memicu lonjakan konsentrasi nanoplastik di atmosfer hingga mencapai hampir 51%.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·