Di balik denyut pasar artisan yang ramai, ada ekosistem yang jarang terlihat: jaringan komunitas yang saling menopang, berkolaborasi, dan bersama-sama menjaga ruang kreatif Yogyakarta tetap hidup.
Hal itu terasa nyata di Pasar Wiguna "Sukaria", penyelenggaraan ke-102 atau Kaping ke-102 yang berlangsung pada Minggu (26/4) di VRATA Hotel, Kalasan, Sleman. Edisi ini mempertemukan 15 tenant artisan lokal dan enam komunitas, yakni CherryPop Festival, Doodle Indonesia Chapter Yogyakarta, Klub Buku Yogyakarta, Sekelana, Jogja Women Cyclists, hingga 26RUN.
Di halaman hotel pagi itu, berlangsung sejumlah aktivasi seperti Spinning Session, Live Sablon Printing, Live Sketch, Doodling Session, Perpuslak dan Diskusi Buku, Sunday Morning Walk, Lokakarya Content Creator, aktivitas bersepeda, hingga Talk Show. Setiap komunitas hadir tak hanya untuk meramaikan, tetapi sebagai penggerak pasar.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang biasa digelar di Alun-Alun Royal Ambarukmo, edisi kali ini memilih VRATA Hotel, hotel bintang 3 dari Ambarrukmo, sebagai rumah baru. Perpindahan ini bukan sekadar soal tempat. Bagi pihak hotel, kehadiran Pasar Wiguna membawa sesuatu yang tak mudah diciptakan sendiri: komunitas.
"Ya, kita bikin hal yang berbeda dari sebelum-sebelumnya, karena yang kita tahu Pasar Wiguna ada di alun-alun Royal Ambarukmo. Jadi memang pagi ini tuh benar-benar banyak sekali aktivitas di VRATA Hotel. Yang pasti kita ada food, beverage, tapi juga ada komunitas-komunitas lain yang mengisi juga," kata Peggy Puspita Sari, Hotel Manager VRATA Hotel, saat ditemui tim Pandangan Jogja, Minggu (26/4).
Bagi para tenant yang sudah sering menggelar lapak, daya tarik utama Pasar Wiguna bukan hanya pengunjung yang ramai, melainkan kurasi artisan yang konsisten dijaga sejak awal dan telah menjadi identitas pasar ini. Ayuri Murakabi, pemilik tenant Dongeng Kopi, merasakan langsung bagaimana ekosistem itu bekerja.
"Sejak pertama aku ikut, aku yang antusias banget karena isinya benar-benar artisan. Aku banyak kenal teman-teman artisan, mereka yang passionate di produknya, di hospitality-nya. Secara yang jualan-jualan juga terkurasi, yang otentik-otentik banget, itu yang kami suka," kata Ayuri yang sudah standby di Pasar Wiguna sejak pukul 06.00 pagi.
Kurasi yang ketat itulah yang membuat komunitas dan tenant merasa aman untuk hadir dan berinvestasi energi. Mereka bukan sekadar berjualan, tetapi juga membangun identitas dan jejaring.
Untuk menjaga ekosistem yang sehat, Pasar Wiguna tidak hanya mempertahankan tenant yang sudah ada. Pengelola juga membuka pintu bagi brand artisan yang belum pernah melapak di sana sebelumnya. Seperti Vivian Gomar, pemilik brand Croft.yk yang baru mengikuti Pasar Wiguna untuk pertama kalinya di edisi ini. Meski baru pertama kali, ia langsung bisa merasakan perbedaan pasar ini dengan tempat-tempat lainnya yang serupa.
"Ini pertama kali juga bisa dapat kesempatan untuk join. Pembedanya, enggak cuma sekadar jualan tapi ada value-nya yang diangkat dari Pasar Wiguna," ujar Vivian. "Rame banget. Senang banget, di luar ekspektasi. Hari ini bawa hampir 100 pieces, sold," tambahnya.
Pasar Wiguna Kaping ke-102 bukan sekadar pasar akhir pekan. Ia adalah bukti bahwa ekosistem kreatif Jogja tidak tumbuh dari infrastruktur semata, melainkan dari komunitas yang saling percaya, saling mengisi, dan saling menghidupkan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·