Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan di Jalur Gaza hingga penghujung tahun 2025. Angka kematian kelompok rentan tersebut mencakup lebih dari separuh total korban jiwa yang mencapai 71.000 orang, dilansir dari Detikcom.
Data tersebut disampaikan oleh UN Women dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Jenewa pada Minggu (19/4/2026). Jumlah korban jiwa ini merupakan akumulasi dari operasi militer darat dan serangan udara yang terjadi sejak Oktober 2023.
Juru bicara badan UN Women, Sofia Calltorp, memberikan rincian demografis mengenai puluhan ribu korban jiwa yang tercatat selama periode konflik tersebut.
"Antara Oktober 2023 dan Desember 2025, lebih dari 38.000 perempuan dan anak perempuan tewas di Gaza -- akibat pemboman udara Israel dan operasi militer darat," kata Sofia Calltorp, Juru bicara badan UN Women.
Calltorp memaparkan bahwa data tersebut mencerminkan tingginya intensitas kematian harian terhadap warga sipil perempuan. Jika dikalkulasi secara rata-rata, puluhan nyawa melayang setiap harinya di wilayah konflik.
"Ini termasuk lebih dari 22.000 perempuan dan 16.000 anak perempuan, yang berarti rata-rata setidaknya 47 perempuan dan anak perempuan tewas setiap hari," lanjut Sofia Calltorp, Juru bicara badan UN Women.
PBB meyakini bahwa statistik yang dilaporkan saat ini kemungkinan besar masih di bawah angka yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh hancurnya sistem pelaporan serta dugaan banyaknya korban yang masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan.
Proporsi kematian perempuan dan anak-anak dalam konflik kali ini tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan konfrontasi bersenjata yang pernah terjadi sebelumnya di Gaza.
"Perempuan dan anak perempuan menyumbang proporsi kematian yang jauh lebih tinggi daripada yang diamati dalam konflik sebelumnya di Gaza," tambah Sofia Calltorp, Juru bicara badan UN Women.
Sebagai perbandingan, laporan UN Women menunjukkan bahwa perempuan dan anak perempuan hanya menyumbang 15 persen kematian pada konflik 2008-2009. Sementara pada eskalasi tahun 2014, persentase tersebut berada di angka 22 persen.
Pihak PBB menegaskan bahwa penyintas yang masih bertahan di Gaza kini menghadapi krisis kemanusiaan yang akut. Mereka terpaksa hidup di tengah ancaman kelaparan, pengungsian yang terus berulang, serta minimnya akses terhadap layanan dasar.
Calltorp juga menyoroti kondisi ribuan warga yang selamat namun harus menanggung dampak fisik yang sangat berat akibat cedera militer.
"Selain jumlah korban jiwa yang mengejutkan, hampir 11.000 perempuan dan anak perempuan di Gaza mengalami cedera yang sangat parah sehingga mereka hanya bertahan hidup dengan kecacatan seumur hidup," kata Sofia Calltorp, Juru bicara badan UN Women.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·