PBB peringatkan dampak serius penutupan Selat Hormuz berkepanjangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PBB (ANTARA) - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres pada Kamis (30/4) memperingatkan konsekuensi yang menghancurkan dari gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.

Dalam sebuah jumpa pers, Guterres memaparkan tiga skenario. Dalam skenario terburuk, di mana selat tersebut tetap ditutup hingga akhir tahun, inflasi global akan meroket melampaui 6 persen, dan pertumbuhan ekonomi akan anjlok ke level 2 persen.

"Penderitaan yang amat besar akan melanda, terutama di kalangan populasi paling rentan di dunia. Dan kita menghadapi bayang-bayang resesi global, dengan dampak yang signifikan pada masyarakat, pada perekonomian, serta pada stabilitas politik dan sosial," kata Guterres memperingatkan.

Dia mengatakan konsekuensi ini tidak bersifat kumulatif, melainkan eksponensial. Semakin lama jalur vital ini tersumbat, semakin sulit untuk memulihkan kerusakan dan semakin tinggi biaya yang harus ditanggung umat manusia.

Bahkan dalam skenario terbaik, "di mana pembatasan dicabut hari ini," rantai pasokan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sehingga memperpanjang penurunan output ekonomi dan kenaikan harga, kata dia memperingatkan.

Menurut sang sekjen PBB, dalam skenario itu, pertumbuhan ekonomi global tahun ini tetap akan turun dari 3,4 menjadi 3,1 persen. Inflasi global, yang sebelumnya menurun, akan naik dari 3,8 menjadi 4,4 persen.

Pertumbuhan perdagangan barang global akan menyusut dari 4,7 persen tahun lalu menjadi sekitar 2 persen, dengan sejumlah gangguan signifikan pada rantai pasokan.

Dalam skenario kedua, di mana gangguan berlanjut hingga pertengahan tahun, pertumbuhan ekonomi global akan turun ke level 2,5 persen. Inflasi akan meningkat ke angka 5,4 persen.

Sekitar 32 juta orang lainnya akan terjerumus ke dalam kemiskinan dan 45 juta orang lainnya akan menghadapi kelaparan ekstrem, ungkap dia.

Seiring krisis Timur Tengah yang terus berlarut memasuki bulan ketiga, konsekuensinya semakin memburuk secara signifikan setiap jamnya meskipun ada gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran, ujar dia.

Guterres menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Pesan saya kepada semua pihak jelas: Hak dan kebebasan navigasi harus segera dipulihkan, sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan 2817. Buka selat tersebut. Biarkan semua kapal melintas. Biarkan ekonomi global kembali bernapas," kata dia.

"Hal itu memerlukan lebih dari sekadar pembukaan fisik. Hal itu memerlukan pelayaran yang aman, dapat diprediksi, dan dapat diasuransikan," kata Guterres.

Pada saat yang sama, sang sekjen PBB mendesak semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang dapat merusak gencatan senjata saat ini.

"Sekarang adalah waktunya untuk dialog, untuk solusi yang dapat menyelamatkan kita dari jurang kehancuran, dan untuk langkah-langkah yang dapat membuka jalan menuju perdamaian. Dunia sedang menunggu," ujar Guterres.

Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.