PBB: Warga sipil di Lebanon terus jadi sasaran meski gencatan senjata

Sedang Trending 54 menit yang lalu

PBB (ANTARA) - Meski gencatan senjata telah berlangsung hampir sebulan, serangan yang menimpa warga sipil dan petugas garda depan Lebanon terus dilaporkan terjadi setiap hari, kata para pekerja kemanusiaan PBB pada Kamis (14/5).

Rentetan serangan drone terhadap mobil-mobil di daerah Jiyeh, sekitar 20 kilometer di selatan Beirut, ibu kota Lebanon, menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk dua anak-anak, pada Rabu (13/5), ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengutip data dari otoritas Lebanon.

Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, sedikitnya 2.896 orang tewas, termasuk 200 anak-anak, dan lebih dari 8.000 orang luka-luka sejak eskalasi serangan terbaru dimulai pada 2 Maret, kata OCHA.

Kantor tersebut mengatakan jumlah warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi juga terus bertambah di seluruh Lebanon menyusul memburuknya situasi keamanan.

Hampir 130.000 orang saat ini berlindung di 632 tempat penampungan kolektif.

Menurut OCHA, perintah evakuasi baru telah dikeluarkan untuk delapan desa di Lebanon selatan dan Kegubernuran Bekaa, yang memicu pergerakan pengungsi lebih lanjut.

"Mitra kemanusiaan melaporkan baik keluarga yang baru mengungsi maupun mereka yang kembali ke tempat penampungan turut berkontribusi terhadap peningkatan jumlah pengungsi tersebut," papar OCHA.

"Ketidakamanan dan luasnya kerusakan terus menghambat proses kepulangan yang aman dan berkelanjutan bagi pengungsi," imbuh badan tersebut lebih lanjut.

OCHA menyebut akses terhadap bantuan kemanusiaan dan pasokan masih memungkinkan tetapi terbatas, terutama di Lebanon selatan, di mana jalan dan jembatan yang rusak, amunisi yang belum meledak, puing-puing akibat konflik, dan ketidakamanan terus menghambat mobilitas dan pemulihan sektor layanan penting.

Sejak eskalasi ketegangan dimulai, 132 pergerakan bantuan kemanusiaan yang membawa pasokan penting telah difasilitasi, tutur OCHA.

Pewarta: Xinhua
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.