Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyampaikan apresiasi terhadap sikap negara-negara Teluk yang memilih menahan diri dari membalas serangan Iran. Pernyataan ini disampaikan pada hari Jumat, 10 April 2026, dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta.
Yahya menyebutkan bahwa keputusan tersebut mencerminkan komitmen kuat negara-negara Teluk terhadap stabilitas kawasan. Langkah ini dinilai sebagai upaya mencegah perluasan konflik di Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang dimaksud termasuk Arab Saudi dan Yordania, yang tidak membalas serangan Iran.
Keputusan menahan diri, menurut Yahya, merupakan bentuk tanggung jawab dalam menjaga perdamaian internasional. Ia juga mengungkapkan bahwa negara-negara tersebut menolak penggunaan wilayah mereka sebagai basis militer untuk menyerang Iran. Hal ini disampaikan oleh para duta besar negara-negara Teluk dan kerajaan Yordania, seperti dilansir dari Cahaya.
Yahya berpendapat bahwa konflik di Timur Tengah memiliki dampak global yang luas, termasuk dampaknya pada sektor energi dunia. Ia menyoroti pentingnya jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz. Selain itu, ditegaskan bahwa seluruh negara yang terlibat adalah mitra strategis Indonesia, sehingga pendekatan yang diambil harus mengedepankan persahabatan.
PBNU menyatakan komitmen untuk terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog internasional. Yahya juga menyambut baik upaya gencatan senjata yang mulai muncul. PBNU juga tengah menginisiasi penguatan ketahanan sosial masyarakat agar mampu menghadapi tekanan ekonomi dan sosial akibat dinamika global.
"Semua kekerasan ini harus berhenti dan perbedaan kepentingan harus diselesaikan melalui perundingan damai dan jalan diplomatik," ujar Yahya Cholil Staquf.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·