Pada Jumat, 10 April 2026, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa berbagai pihak yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah memiliki aspirasi yang sama, yaitu menghentikan perang dan kekerasan. Pernyataan ini disampaikan setelah serangkaian pertemuan dengan sejumlah duta besar negara sahabat.
Kesamaan pandangan ini dinilai sebagai sinyal positif untuk penyelesaian damai di tengah situasi yang terus berkembang. Diskusi intensif dilakukan Yahya dengan perwakilan negara-negara, termasuk Iran dan Amerika Serikat. Tujuannya adalah untuk memahami dinamika konflik dan menjajaki sudut pandang masing-masing pihak.
Dilansir dari Cahaya, Yahya menekankan bahwa meski perbedaan kepentingan antarnegara adalah hal yang wajar, keinginan untuk menghentikan peperangan tetap menjadi fokus utama. Ia juga menyoroti rumitnya latar belakang konflik bersenjata saat ini.
PBNU memandang peperangan dan kekerasan sebagai bencana kemanusiaan yang harus dicegah. Oleh karena itu, PBNU mendorong langkah-langkah diplomatik guna deeskalasi konflik serta mendorong penyelesaian damai. Yahya Cholil Staquf juga menekankan pentingnya dukungan global terhadap berbagai inisiatif perdamaian.
Menurut Yahya, konsensus di kalangan para diplomat sangat penting untuk membangun kepercayaan dan membuka ruang dialog yang lebih luas. Hal ini akan meningkatkan peluang tercapainya perdamaian.
"Apapun upaya untuk menghentikan kekerasan harus kita dukung bersama," ujar Yahya Cholil Staquf.
PBNU berharap kesamaan aspirasi di tingkat diplomatik dapat segera diwujudkan dalam langkah-langkah nyata untuk mengakhiri konflik dan mencegah dampak kemanusiaan yang lebih luas.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·