Aktivitas perdagangan di pusat tekstil Pasar Cipadu, Kota Tangerang, terpantau sepi pada Kamis (15/4/2026) akibat pergeseran pola belanja masyarakat ke platform digital dan melemahnya daya beli. Kondisi ini menyebabkan penurunan omzet yang signifikan bagi para pedagang kain legendaris di kawasan tersebut.
Dilansir dari Detik Finance, para pedagang melaporkan bahwa penurunan pendapatan telah mencapai lebih dari 70 persen jika dibandingkan dengan periode sebelum pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Faktor efisiensi perusahaan dalam pengadaan seragam juga turut memperparah keadaan.
Muklis, salah satu pedagang kain yang telah bertahan sejak awal tahun 2000, mengungkapkan bahwa kelesuan pasar ini telah berlangsung selama kurang lebih enam tahun. Ia menyebutkan bahwa kemudahan berbelanja secara daring membuat kunjungan fisik ke pasar terus merosot.
"Pokoknya asalnya dari COVID kemarin, sudah mulai kacau selanjutnya pasar. Tambah lagi masalah orang-orang jual lagi di online, orang sambil rebahan juga bisa beli, makin sepi yang datang kan," kata Muklis, pedagang kain bahan.
Selain persaingan digital, konflik di Timur Tengah saat ini juga mulai berdampak pada kenaikan harga bahan baku tekstil di tingkat global. Namun, Muklis mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan kenaikan harga barang karena masalah utamanya adalah ketiadaan pembeli.
Kondisi ekonomi makro terlihat dari perubahan perilaku konsumen perusahaan yang menjadi pelanggan tetapnya. Jika sebelumnya pabrik memesan seragam dua kali dalam setahun, kini mereka hanya melakukan pengadaan setiap tiga tahun sekali demi efisiensi biaya operasional.
Penurunan drastis juga dirasakan oleh Ade, seorang penjaga toko kain lainnya di kawasan yang sama. Ia menjelaskan perbedaan pendapatan harian yang sangat kontras antara masa kejayaan pasar dengan kondisi saat ini pada April 2026.
Sebelum pandemi melanda, toko yang dijaga Ade mampu mencatatkan pemasukan hingga Rp 40 juta dalam satu hari melalui penjualan grosir. Saat ini, rata-rata omzet harian yang didapatkan hanya berkisar di angka Rp 1 juta melalui penjualan eceran atau ketengan.
Sebagai langkah efisiensi untuk bertahan, sejumlah pedagang terpaksa menutup sebagian gerai mereka. Muklis sendiri telah mengurangi jumlah tokonya dari lima menjadi hanya dua unit karena biaya operasional yang tidak sebanding dengan pemasukan.
Hingga saat ini, para pedagang di Pasar Cipadu hanya bisa mengandalkan pesanan melalui layanan pesan singkat WhatsApp dari pelanggan lama. Sebagian besar ruko di sentra kain tersebut kini mulai banyak yang ditinggalkan oleh penyewanya.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·