Pedro Sánchez Serukan China Bantu Akhiri Perang di Iran dan Ukraina

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Dalam kunjungan resminya ke China pada Sabtu (13/4/2026), Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyerukan Beijing untuk memanfaatkan pengaruh internasionalnya guna membantu mengakhiri perang yang sedang berlangsung di Iran dan Ukraina. Permintaan tersebut disampaikan Sánchez dalam pidatonya di Universitas Tsinghua, Beijing, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.

Sánchez menekankan bahwa China memiliki peran lebih besar dalam menegakkan hukum internasional dan menghentikan konflik di berbagai wilayah, termasuk di Lebanon, Iran, Gaza, Tepi Barat, dan Ukraina. Langkah ini dianggap krusial mengingat situasi global yang semakin memanas dan kompleks.

China, yang tengah mempersiapkan kunjungan Donald Trump bulan depan, sebelumnya telah menyatakan penolakan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Presiden Xi Jinping, yang dijadwalkan bertemu dengan Sánchez, hingga kini belum memberikan pernyataan terbuka terkait konflik yang melibatkan Iran, salah satu mitra utama China.

Pada Minggu sebelumnya, Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz setelah perundingan dengan Iran mengalami kegagalan. Perang yang telah berlangsung selama tujuh minggu tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran akan dampak ekonomi global yang lebih besar.

Spanyol sendiri menjadi salah satu negara Eropa yang paling vokal dalam menentang operasi militer tersebut, yang secara terbuka disebut sebagai tindakan ilegal oleh Sánchez. Madrid bahkan telah menutup ruang udaranya bagi jet tempur AS yang terlibat dalam konflik dan melarang Washington menggunakan dua pangkalan militer di wilayah Spanyol untuk keperluan perang.

Sánchez berpendapat bahwa China dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam menghentikan konflik di Teluk dan Ukraina dengan memanfaatkan pengaruhnya terhadap Iran dan Rusia, yang memiliki hubungan erat dengan Beijing. Ia menambahkan bahwa hukum internasional merupakan fondasi dari segala hal.

Spanyol terus berupaya memperkuat hubungan dengan China dalam beberapa tahun terakhir, bahkan memposisikan diri sebagai sekutu terdekat China di Eropa. Kunjungan keempat Sánchez dalam tiga tahun terakhir ini juga mencakup pertemuan dengan berbagai pemimpin politik dan pelaku bisnis.

Langkah Spanyol yang mendukung China bukannya tanpa risiko. Kembalinya Trump ke Gedung Putih telah memicu gejolak, baik dalam hubungan Eropa dengan Washington maupun dalam hubungan AS-China. Sánchez melawat ke Beijing hanya beberapa hari setelah AS memberlakukan tarif terhadap hampir seluruh negara. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut tindakan Spanyol tersebut sebagai upaya yang merugikan negaranya sendiri.

Sejak saat itu, sejumlah negara Eropa mulai melunakkan sikap terhadap China, yang secara resmi dipandang oleh Uni Eropa sebagai pesaing sekaligus rival sistemik.

Spanyol mencatat defisit perdagangan dengan China lebih dari US$36 miliar pada 2025, sementara kesenjangan perdagangan Uni Eropa secara keseluruhan mencapai hampir US$364 miliar. Dalam pidato pembukaan kunjungan resminya, Sánchez menggunakan bahasa yang lebih tegas dibanding sebelumnya untuk menggambarkan ketimpangan tersebut, dengan menyebutnya sebagai “tidak berkelanjutan” dan menekankan bahwa “hubungan perdagangan harus seimbang dan bersifat timbal balik.”

Sánchez juga menambahkan bahwa ketika “tatanan multipolar baru” mulai terbentuk, kondisi tersebut akan membutuhkan ekonomi yang lebih setara dan adil, “di mana tidak ada wilayah yang kalah dan wilayah yang menang.”