Pelemahan Rupiah Tekan Profitabilitas dan Ekspansi Industri Satelit Nasional

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Sektor industri satelit nasional mulai menghadapi tekanan berat akibat nilai tukar rupiah yang merosot hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya operasional perusahaan mengingat sebagian besar infrastruktur masih sangat bergantung pada komponen impor.

Dilansir dari Detik iNET pada Selasa (12/5/2026), ketergantungan terhadap mata uang asing dalam pembiayaan satelit menjadi faktor utama kerentanan industri ini. Pelemahan nilai tukar dilaporkan telah menggerus profitabilitas para operator satelit yang beroperasi di wilayah Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, memberikan penegasan bahwa mayoritas perangkat teknologi saat ini masih didatangkan dari luar negeri.

"Nilai tukar pasti yang pertama mempengaruhi, karena satelit maupun ground segment mayoritas menggunakan mata uang asing," ujar Risdianto di acara Asia Pacific Satellite Conference 2026, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Lonjakan kurs dolar AS tidak hanya membebani biaya investasi teknologi, tetapi juga berpotensi menghambat langkah perusahaan dalam memperluas jangkauan layanan mereka. Risdianto menilai situasi ekonomi ini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan bisnis operator domestik.

"Peningkatan nilai tukar itu juga akan menekan ekspansi dari lokal operator," ungkap Risdianto, Ketua Umum ASSI.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, menyoroti adanya hambatan baru dalam aspek permodalan industri. Menurutnya, pelemahan nilai tukar secara sistemik mempersulit perusahaan dalam mengakses pendanaan yang dibutuhkan untuk pengembangan infrastruktur.

"Pendanaan otomatis akan jadi makin sulit karena uang yang beredar di dalam negeri makin sedikit," kata Sigit Jatipuro, Sekretaris Jenderal ASSI.

Meski menghadapi tantangan besar pada sisi biaya, Sigit melihat adanya potensi tersembunyi bagi pelaku industri yang memiliki fokus pada pasar luar negeri. Kenaikan nilai dolar AS dianggap dapat menjadi stimulus bagi perusahaan dengan orientasi ekspor untuk memperkuat pendapatan mereka.

"Kalau dolar naik, yang paling bagus sebenarnya sektor ekspor. Karena biaya produksi kita rupiah, tapi pendapatannya dolar," pungkas Sigit Jatipuro, Sekretaris Jenderal ASSI.

Terpuruknya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.500 ini tercatat sebagai titik terendah sepanjang sejarah. Merespons kondisi darurat tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan komitmen pemerintah untuk mulai mendampingi Bank Indonesia dalam upaya stabilisasi nilai tukar mulai esok hari.