Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan pasokan minyak mentah atau crude untuk kebutuhan domestik telah aman melalui kontrak pembelian hingga Desember 2026. Penegasan ini disampaikan Bahlil di Istana Merdeka pada Kamis (16/4/2026) sebagai tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah pengamanan stok energi satu tahun ke depan ini dilakukan guna menjaga stabilitas nasional, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Selain memastikan pasokan, pemerintah kini berfokus pada upaya pemaksimalan operasional kilang dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas produksi pengolahan minyak.
"Bapak Presiden selalu berpikir untuk bagaimana caranya agar ketersediaan kita satu tahun itu harus tetap ada dan atas arahan Bapak Presiden itu saya menindaklanjuti. Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan Desember insya Allah sudah aman," kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Kementerian ESDM saat ini juga sedang mematangkan rencana teknis untuk melakukan impor minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), dan gas minyak cair (LPG) dari Rusia. Tim dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dilaporkan telah berada di Rusia sejak Rabu (15/4/2026) untuk membahas skema kerja sama jangka panjang tersebut.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa kedua pihak belum menetapkan volume spesifik maupun mekanisme pengadaan akhir. Namun, ia menilai komitmen Rusia untuk bekerja sama dalam penyediaan crude, BBM, dan LPG merupakan perkembangan positif bagi ketahanan energi Indonesia.
Selain penjajakan dengan Rusia, Indonesia telah merealisasikan impor minyak mentah dari Amerika Serikat, meski pengadaan BBM dari negara tersebut belum dilaksanakan. Berdasarkan dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) Februari 2026, Indonesia berkomitmen memfasilitasi pembelian produk energi dari Amerika Serikat dengan total nilai yang signifikan.
Komitmen dalam dokumen tersebut mencakup pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp59,13 triliun. Selain itu, terdapat rencana impor minyak mentah senilai US$4,5 miliar atau Rp76,02 triliun, serta bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa realisasi impor minyak mentah Indonesia pada periode Januari hingga Februari 2026 telah mencapai 2,9 juta ton. Volume tersebut setara dengan kurang lebih 3,43 juta kiloliter (kl), yang menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri untuk memenuhi konsumsi energi nasional.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·