Pemerintah AS Desak Produsen Minyak Tingkatkan Produksi Akibat Krisis Iran

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Pejabat pemerintahan Donald Trump mendesak sejumlah eksekutif produsen minyak Amerika Serikat untuk segera meningkatkan volume produksi pada Kamis (16/4/2026). Langkah darurat ini diambil sebagai respons atas guncangan pasokan energi global yang dipicu oleh eskalasi konflik militer dengan Iran.

Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Doug Burgum dan Menteri Energi Chris Wright dalam sebuah konferensi video selama 40 menit. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pertemuan ini melibatkan pimpinan perusahaan besar seperti Exxon Mobil Corp., Chevron Corp., dan Continental Resources Inc. guna menstabilkan pasar domestik.

Pasokan minyak dunia saat ini terganggu akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang biasanya menyalurkan seperlima kebutuhan minyak dan gas alam cair global. Kerusakan fasilitas energi di kawasan Teluk mengakibatkan hilangnya sekitar 16 juta barel minyak mentah per hari, yang memicu lonjakan harga bensin dan risiko politik menjelang pemilu paruh waktu.

Menteri Energi Chris Wright memperkirakan gangguan distribusi energi ini hanya bersifat sementara. Pemerintah memandang kenaikan harga di pasar fisik, yang sempat mencatatkan rekor pada harga acuan Dated Brent, sebagai fenomena jangka pendek yang tidak akan berlangsung selama berbulan-bulan.

"Harganya sebenarnya tidak terlalu tinggi jika melihat apa yang seharusnya terjadi untuk menyingkirkan senjata nuklir, dengan risiko yang menyertainya," kata Trump, Presiden AS.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih setelah pertemuan virtual berlangsung. Meski harga kontrak berjangka berada di level US$98,30 per barel, para pelaku industri cenderung masih enggan berinvestasi pada pengeboran sumur baru karena kekhawatiran akan penurunan harga di masa depan.

Menteri Dalam Negeri Doug Burgum memberikan tanggapan positif terhadap hasil diskusi dengan para pemimpin industri minyak tersebut. Ia mencatat adanya optimisme dari para eksekutif terkait pemanfaatan momentum harga pasar saat ini.

"Itu panggilan yang sangat baik," kata Burgum, Menteri Dalam Negeri.

Ia menambahkan bahwa para pelaku industri mulai bergerak karena sinyal harga yang ada dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berinvestasi. Di sisi lain, para pemimpin industri menekankan perlunya reformasi perizinan untuk mempercepat pengembangan proyek energi di dalam negeri serta pelonggaran pembatasan pembakaran gas alam (flaring).

Pemerintah AS juga telah memberikan kompensasi berupa pengecualian sementara terhadap Jones Act untuk mempermudah distribusi bahan bakar antar pelabuhan menggunakan kapal asing. Selain itu, pejabat pemerintah memastikan tidak akan menerapkan larangan ekspor minyak mentah maupun pengenaan pajak keuntungan tak terduga bagi perusahaan energi.