Pemerintah Jajaki Impor Tabung CNG Tiga Kilogram dari China

Sedang Trending 37 menit yang lalu

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan rencana impor sekitar 100.000 unit tabung gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) berukuran 3 kilogram dari China untuk proses pengujian, Rabu (20/5/2026).

Rencana pengadaan tersebut dilakukan oleh badan usaha yang saat ini sedang berproses, guna memenuhi syarat minimal pemesanan agar tabung riil dapat diuji. Langkah penjajakan ini dilansir dari Bloomberg Technoz.

Pemerintah berfokus pada tahapan pengujian komoditas baru tersebut sebelum didistribusikan secara masif kepada masyarakat. Skema bisnis untuk program gas tabung ini juga sedang disusun oleh pihak kementerian.

“Jadi, kita sekarang fokus kepada proses pengujian. Proses pengujian ini butuh tabung yang riil. Untuk bisa kita dapatkan tabung yang riil, minimum kita harus pesan 100.000,” kata Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM.

Laode Sulaeman menyampaikan hal tersebut di sela acara IPA Convex 2026. Ia menambahkan bahwa pelaksanaan impor sepenuhnya menjadi ranah calon badan usaha terkait, bukan dari pihak kementerian langsung.

“Akan tetapi, ini yang lakukan calon badan usahanya ya, bukan kita. Mereka yang sedang berproses sekarang,” tegas Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM.

Terkait nilai total dari pengadaan tersebut, pihak kementerian belum memberikan rincian nominalnya. Regulasi dan bentuk kerja sama komersial program ini masih berada dalam tahap perumusan internal oleh Ditjen Minerba atas instruksi menteri.

“Nanti, nanti. Jadi, Pak Menteri masih menugaskan kami untuk menyiapkan skema bisnisnya seperti apa,” ujar Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM.

Sebelumnya, kepastian mengenai lokasi pengujian tabung gas bertekanan tinggi ini telah disampaikan oleh pimpinan kementerian. Proses uji kelaikan produk akan dilaksanakan secara terpisah di dua negara tempat pabrik dan wilayah pemasaran berada pada Senin (18/5/2026).

“Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China, dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya,” ungkap Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Menteri ESDM menjelaskan bahwa produk gas alam terkompresi dengan ukuran volume yang lebih besar sebenarnya sudah lama beredar di pasar domestik. Penggunaan format ukuran besar tersebut menyasar sektor industri serta perhotelan.

“Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu [CNG 12 dan 20 kg] sudah jalan, tetapi kan kita lagi melakukan uji coba terhadap tabung yang 3 kilogram untuk rakyat,” tambah Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.

Aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam pengujian ini karena karakteristik tekanan tinggi dari komoditas tersebut. Berdasarkan data Ditjen Migas, tekanan CNG mencapai 200 hingga 250 bar sehingga memerlukan dinding tabung berbahan komposit atau carbon fiber yang sangat tebal jika dibandingkan dengan tekanan LPG yang hanya 5 sampai 10 bar.

Pengembangan wadah berbahan polimer tipe 4 ini diproyeksikan memakan waktu selama tiga bulan. Kementerian ESDM memastikan masyarakat nantinya tidak perlu mengganti atau memasang alat pengonversi pada kompor LPG yang saat ini sudah mereka miliki untuk menggunakan bahan bakar baru ini.

Berdasarkan catatan resmi, Indonesia saat ini memiliki 53 badan usaha niaga di sektor ini, termasuk PT Gagas Energi Indonesia selaku anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS). Perusahaan tersebut mengoperasikan 14 SPBG dan mengalirkan total 4.067.002 MMBtu gas untuk ratusan pelanggan industri serta ribuan kendaraan sepanjang tahun 2025.

Realisasi penyaluran energi alternatif ini terus dipantau perkembangannya oleh korporasi. Pada periode tahun lalu, volume distribusi gabungan untuk jenis gas terkompresi dan gas cair oleh anak usaha BUMN tersebut tercatat mencapai angka 4,6 juta MMBtu.