Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral resmi membuka putaran pertama lelang minyak dan gas bumi tahun 2026 dengan menawarkan 13 Wilayah Kerja baru bernilai strategis pada ajang Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition di Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).
Langkah strategis ini diambil pemerintah untuk mendongkrak gairah investasi hulu migas nasional, seperti dilansir dari Kompas. Melalui program ini, Kontraktor Kontrak Kerja Sama diberikan fleksibilitas penuh untuk memilih skema bagi hasil Production Sharing Contract yang mereka inginkan, baik gross split maupun cost recovery.
Skema gross split menawarkan porsi bagi hasil lebih besar di awal dengan seluruh biaya produksi ditanggung perusahaan, sedangkan cost recovery memberikan kepastian pengembalian biaya operasi oleh pemerintah. Selain fleksibilitas kontrak, pemerintah juga memberikan stimulus fiskal berupa insentif perpajakan yang longgar hingga Imbalan DMO.
“Kementerian ESDM secara resmi mengumumkan putaran pertama lelang minyak bumi Indonesia tahun 2026, dengan total 13 wilayah kerja,” ujar Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM.
Pemerintah membagi proses tender ini ke dalam beberapa gelombang dan jalur masuk bagi para investor yang berminat. Jalur Direct Offer dibuka mulai 20 Mei hingga 3 Juli 2026, sementara jalur Regular Tender lainnya dibuka hingga 15 September 2026.
"Bagi yang tertarik untuk berpartisipasi, lelang dimulai hari ini," kata Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM.
Proses tender dibagi menjadi dua mekanisme utama, yaitu Jalur Direct Offer Tender untuk wilayah dengan data yang sudah cukup matang dan Jalur Regular Tender untuk area studi baru. Wilayah Kerja yang dilelang mencakup area lepas pantai maupun daratan yang tersebar dari wilayah Sumatra hingga Papua.
| WK Natuna D Alpha | Direct Offer | Offshore Natuna | 10.211,85 | ± 2.865 mmbo |
| WK Sapukala | Direct Offer | Offshore Selat Makassar | 8.474,5 | ± 2.309 bscf gas |
| WK Rupat | Regular Tender | Offshore & Onshore Riau, Offshore Sumut | 7.843,66 | ± 1.110 mmbo |
| WK Puri | Regular Tender | Onshore Riau | 4.190,32 | ± 1.110 mmbo |
| WK Pesut Mahakam | Regular Tender | Onshore Kalimantan Timur | 1.530,15 | ± 1.336 mmbo |
| WK Bengara II | Regular Tender | Onshore & Offshore Kalimantan Utara | 3.289,67 | ± 1.057 mmbo |
| WK Maratua II | Regular Tender | Onshore & Offshore Kalimantan Utara | 4.350,36 | ± 3.279 mmbo |
| WK Namori | Regular Tender | Offshore Nusa Tenggara Timur | 9.769,82 | ± 17.475 mmbo / 38,5 tcf gas |
| WK South Tanimbar | Regular Tender | Offshore Laut Arafura | 8.492,49 | ± 5,6 tcf gas |
| WK Cerera | Regular Tender | Offshore Papua | 7.171,22 | ± 1.487 mmbo & 1,3 tcf gas |
| WK Areca Bruni | Regular Tender | Offshore & Onshore Papua Barat Daya | 8.480,52 | ± 2.985 mmboe |
| WK Rombebai | Regular Tender | Offshore & Onshore Papua | 7.367,48 | ± 14,75 tcf gas |
| WK Jayapura | Regular Tender | Offshore & Onshore Papua | 7.299,41 | ± 19,4 tcf gas |
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·