Pemerintah Ubah Formula HPM Nikel Guna Kejar Nilai Fundamental

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memberlakukan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) nikel pada Rabu, 15 April 2026, guna memastikan harga bijih domestik mencerminkan nilai fundamentalnya. Penyesuaian ini dilakukan di tengah maraknya impor bijih nikel dari Filipina dan Kaledonia Baru oleh industri pengolahan dalam negeri.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan bahwa revisi ini bertujuan agar harga nikel lokal dapat bersaing dengan komoditas impor. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, harga domestik selama ini dinilai masih berada di bawah nilai wajar jika dibandingkan dengan harga dari luar negeri.

"Sekarang lihat data impor nikel dari Filipina sama New Caledonia. Berapa? Sampai di sini berapa? Nah, pertanyaan selanjutnya adalah kenapa nikel kita dihargai rendah?" kata Tri Winarno, Dirjen Minerba Kementerian ESDM di Kompleks DPR RI.

Tri menambahkan bahwa penyesuaian HPM ini mengakibatkan harga bijih domestik mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai di atas 100 persen. Meskipun terjadi kenaikan, ia mengklaim harga nikel Indonesia setelah revisi tetap diposisikan lebih rendah dibandingkan harga bijih impor.

Dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 144/2026, pemerintah tidak lagi hanya mengacu pada kadar nikel semata. Formula terbaru kini turut mempertimbangkan kandungan mineral ikutan seperti besi (Fe), kobalt (Co), dan krom (Cr), serta faktor kadar air dalam perhitungannya.

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai kebijakan ini akan menguntungkan perusahaan tambang, namun memberatkan operasional smelter. Kenaikan harga bijih limonit atau kadar rendah diprediksi melonjak lebih dari 100 persen karena unsur kobalt mulai diperhitungkan dalam harga jual.

Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono, menjelaskan bahwa smelter hidrometalurgi berbasis HPAL akan merasakan tekanan paling besar. Selain kenaikan harga bahan baku, operasional mereka juga terbebani lonjakan harga asam sulfat dari di bawah US$100 per ton menjadi US$250 per ton akibat konflik Timur Tengah.

Berdasarkan perhitungan Perhapi, kombinasi kenaikan HPM dan harga asam sulfat dapat mendorong biaya produksi nikel dalam mixed hydroxide precipitate (MHP) mencapai lebih dari US$17.000 per ton. Sementara itu, smelter pirometalurgi juga menghadapi tantangan kenaikan harga energi di tengah diskon harga nickel pig iron di pasar global.