Cianjur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, memperpanjang status siaga darurat bencana tahun 2026 dengan menyesuaikan prediksi cuaca ekstrem dari BMKG yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian di Cianjur, Minggu, mengatakan sebagai langkah antisipasi penanganan bencana, saat ini pihaknya sudah memetakan beberapa wilayah rawan terdampak bencana seperti banjir, longsor, dan bencana lainnya.
Status siaga darurat bencana ditetapkan dengan menyesuaikan prediksi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan terus berlanjut sampai Juni-Juli melanda sebagian besar wilayah Cianjur, termasuk peralihan musim dari hujan ke panas.
"Status siaga darurat bencana diperpanjang dan Pemkab Cianjur sudah menyiapkan anggaran dana kebencanaan untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan kemungkinan peralihan musim yang berpotensi terjadinya kemarau panjang," katanya.
Dia menjelaskan status siaga darurat bencana di Cianjur sebelumnya telah berakhir pada 30 April, namun melihat kondisi cuaca ekstrem yang masih melanda serta bencana alam yang terjadi di sejumlah kecamatan membuat pihaknya memperpanjang status tersebut.
Baca juga: BPBD Cianjur pastikan jalur menuju Gunung Padang sudah dapat dilalui
Bencana alam terbaru terjadi di dua kecamatan, Mande dan Cipanas, dimana banjir bandang menerjang wilayah Desa Jamali, Kecamatan Mande, membuat puluhan rumah warga terendam banjir, 15 diantaranya rusak berat, serta banjir meredam 30 rumah di Desa Batulawang, Kecamatan Pacet.
Seperti diberitakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cianjur, mengajukan perpanjangan status siaga darurat bencana diperpanjang hingga Desember 2026 karena saat ini memasuki peralihan musim dari musim hujan ke panas.
Dimana pada peralihan musim diprediksi akan terjadi kemarau lebih cepat dan panjang sehingga perlu diwaspadai masyarakat terutama di wilayah rawan kekeringan.
"Musim kemarau basah sudah mulai terjadi, dimana hal tersebut merupakan perubahan cuaca dimana pada siang cerah atau panas dan saat petang hingga malam terjadi hujan," kata Sekretaris BPBD Cianjur Asep Sudrajat.
Informasi dari BMKG tutur dia, setelah kemarau basah berlalu, akan terjadi musim kemarau yang lebih cepat diperkirakan mulai terjadi pertengahan tahun dan diperkirakan akan berlangsung cukup panjang.
Sehingga berbagai upaya untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya bersama Pemkab Cianjur sudah melakukan mitigasi dan pemetaan termasuk menambah titik sumur bor dan embung air yang dapat dijadikan sumber air bagi warga di wilayah rawan kekeringan.
Baca juga: BMKG surati Gubernur Aceh agar siaga bencana hidrometeorologi
Baca juga: BPBD Banyumas siaga hadapi potensi erupsi Gunung Slamet
Pewarta: Ahmad Fikri
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·