Doha (ANTARA) - Wakil Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed memastikan negaranya mampu memulihkan produksi dan ekspor minyak ke tingkat sebelumnya dalam waktu sepekan setelah Selat Hormuz dibuka kembali.
"Produksi dan ekspor minyak Irak dapat dipulihkan ke tingkat sebelum penutupan Selat Hormuz dalam tujuh hari setelah pelayaran kembali pulih secara bebas," kata Mohammed dalam wawancara bersama media Asharq Al-Awsat, Sabtu (2/5).
Pejabat itu mengatakan produksi minyak di Irak saat ini ada di tingkat 1,5 juta barel per hari (bpd), dengan sekitar 200 ribu bpd diekspor melalui Kota Ceyhan di Turki. Sebelum konflik di Selat Hormuz pecah, produksi minyak di Irak mencapai 3,5 juta bpd, tambah Mohammed.
Baca juga: "Supertanker" Iran lolos blokade AS dan berlayar ke Indonesia
Lebih lanjut, dia memastikan pemeriksaan jalur pipa minyak Kirkuk-Fish-Kabur, yang merupakan cabang baru dari jalur utama Kirkuk-Ceyhan, sedang berlangsung dengan uji coba operasional dijadwalkan pada akhir bulan ini.
Eskalasi konflik terkait Iran mengakibatkan blokade terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur suplai amat penting bagi komoditas minyak dan LNG dari Teluk Persia ke pasar global. Blokade tersebut berdampak pada performa produksi dan ekspor minyak dari negara-negara di Timur Tengah.
Tak sedikit negara kini mengalami kenaikan harga minyak dan komoditas industri.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Iran tetapkan tenggat sebulan untuk AS akhiri blokade Selat Hormuz
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·