Dinginnya Es Krim Goreng Lumora: Buah Manis Perjuangan dari Kamar Kos

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Matahari di atas langit Palangka Raya siang itu, Minggu (3/5), terasa begitu menyengat. Di sela hiruk-pikuk di Jalan Beliang, tepat di dekat Apotek Sehat Insani, sebuah aroma harum dan sensasi dingin yang kontras memanggil siapa saja yang melintas. Di sanalah Lumora Es Krim Goreng berdiri, menawarkan sensasi kecil bagi warga yang tengah kegerahan.

JEFRI – PALANGKA RAYA

NAMUN, di balik sejuknya es krim yang lumer di mulut itu, ternyata ada kisah “panas” tentang perjuangan seorang wanita muda bernama Ayu Pandiangan. Siapa sangka, bisnis yang kini menempati ruko sendiri ini, berawal dari ruang sempit di sebuah kamar kos. Ayu mengenang kembali masa-masa kuliahnya, di mana ia harus berkutat dengan boks catering untuk menyambung hidup.

“Prosesnya sekitar lima tahun. Mulanya cuma katering rumahan di kos, lalu pelan-pelan berani buka stand di berbagai acara, sampai akhirnya seminggu lalu bisa buka permanen di sini,” kenang Ayu dengan binar mata penuh syukur.

Ide menjual es krim goreng sendiri datang dari sang adik. Di saat banyak kuliner kekinian datang dan pergi, Ayu justru memilih bertahan dengan menu klasik yang kini mulai langka ditemukan di Palangka Raya.

Daya tarik utama Lumora tentu saja es krim gorengnya. Bayangkan lapisan roti yang digoreng hingga golden brown dan renyah, namun saat digigit, lidah kita disambut oleh es krim dingin yang lembut. Ada tiga varian rasa favorit: cokelat, stroberi, dan vanila.

Harganya pun sangat bersahabat untuk kantong mahasiswa maupun keluarga. Cukup dengan Rp12 ribu, satu porsi es krim goreng sudah bisa dinikmati. Bahkan bagi yang datang bersama teman, ada promo spesial Rp20 ribu untuk dua porsi.

Electronic money exchangers listing

Tak hanya itu, aroma pisang lumer dengan berbagai topping, mulai dari green tea hingga tiramisu, serta gurihnya risol mayo turut melengkapi daftar menu yang menggoda selera di ruko ini.

Ayu sadar bahwa di zaman sekarang, kelezatan rasa harus dibarengi dengan jempol yang lincah di layar ponsel. Tantangan mencari tenaga kerja dan memperluas pasar ia jawab lewat kreativitas di dunia maya.

“Sekitar 70 persen pelanggan kami justru datang karena melihat konten di Instagram dan TikTok,” ungkapnya saat disambangi Prokalteng.co, Minggu (3/5).

Hal ini membuktikan bahwa strategi digitalnya berhasil menarik minat anak muda hingga para orang tua yang ingin memberikan camilan spesial untuk buah hati mereka. Buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, Lumora kini bukan sekadar tempat jualan, melainkan bukti nyata dari sebuah ketekunan. Dari sekadar pesanan boks di kamar kos, kini Ayu punya mimpi yang lebih besar.

“Harapannya, Lumora bisa terus besar dan dikenal luas,” tutup Ayu sambil melayani pelanggan dengan ramah.

Bagi warga Palangka Raya yang ingin mencari pelarian dari cuaca terik, Lumora mungkin adalah jawabannya. Sebuah pemberhentian manis yang membuktikan bahwa impian yang digoreng dengan ketekunan, akan berakhir lezat pada waktunya. (*)

Matahari di atas langit Palangka Raya siang itu, Minggu (3/5), terasa begitu menyengat. Di sela hiruk-pikuk di Jalan Beliang, tepat di dekat Apotek Sehat Insani, sebuah aroma harum dan sensasi dingin yang kontras memanggil siapa saja yang melintas. Di sanalah Lumora Es Krim Goreng berdiri, menawarkan sensasi kecil bagi warga yang tengah kegerahan.

JEFRI – PALANGKA RAYA

NAMUN, di balik sejuknya es krim yang lumer di mulut itu, ternyata ada kisah “panas” tentang perjuangan seorang wanita muda bernama Ayu Pandiangan. Siapa sangka, bisnis yang kini menempati ruko sendiri ini, berawal dari ruang sempit di sebuah kamar kos. Ayu mengenang kembali masa-masa kuliahnya, di mana ia harus berkutat dengan boks catering untuk menyambung hidup.

Electronic money exchangers listing

“Prosesnya sekitar lima tahun. Mulanya cuma katering rumahan di kos, lalu pelan-pelan berani buka stand di berbagai acara, sampai akhirnya seminggu lalu bisa buka permanen di sini,” kenang Ayu dengan binar mata penuh syukur.

Ide menjual es krim goreng sendiri datang dari sang adik. Di saat banyak kuliner kekinian datang dan pergi, Ayu justru memilih bertahan dengan menu klasik yang kini mulai langka ditemukan di Palangka Raya.

Daya tarik utama Lumora tentu saja es krim gorengnya. Bayangkan lapisan roti yang digoreng hingga golden brown dan renyah, namun saat digigit, lidah kita disambut oleh es krim dingin yang lembut. Ada tiga varian rasa favorit: cokelat, stroberi, dan vanila.

Harganya pun sangat bersahabat untuk kantong mahasiswa maupun keluarga. Cukup dengan Rp12 ribu, satu porsi es krim goreng sudah bisa dinikmati. Bahkan bagi yang datang bersama teman, ada promo spesial Rp20 ribu untuk dua porsi.

Tak hanya itu, aroma pisang lumer dengan berbagai topping, mulai dari green tea hingga tiramisu, serta gurihnya risol mayo turut melengkapi daftar menu yang menggoda selera di ruko ini.

Ayu sadar bahwa di zaman sekarang, kelezatan rasa harus dibarengi dengan jempol yang lincah di layar ponsel. Tantangan mencari tenaga kerja dan memperluas pasar ia jawab lewat kreativitas di dunia maya.

“Sekitar 70 persen pelanggan kami justru datang karena melihat konten di Instagram dan TikTok,” ungkapnya saat disambangi Prokalteng.co, Minggu (3/5).

Hal ini membuktikan bahwa strategi digitalnya berhasil menarik minat anak muda hingga para orang tua yang ingin memberikan camilan spesial untuk buah hati mereka. Buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, Lumora kini bukan sekadar tempat jualan, melainkan bukti nyata dari sebuah ketekunan. Dari sekadar pesanan boks di kamar kos, kini Ayu punya mimpi yang lebih besar.

“Harapannya, Lumora bisa terus besar dan dikenal luas,” tutup Ayu sambil melayani pelanggan dengan ramah.

Bagi warga Palangka Raya yang ingin mencari pelarian dari cuaca terik, Lumora mungkin adalah jawabannya. Sebuah pemberhentian manis yang membuktikan bahwa impian yang digoreng dengan ketekunan, akan berakhir lezat pada waktunya. (*)