Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Timur terus memperkuat upaya pengelolaan lingkungan melalui pengurangan sampah dari sumbernya guna menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
"Semua berkomitmen bahwa timbunan sampah itu harus turun. Untuk pengurangan sampah, ya caranya dipilah, kemudian diolah. Anorganiknya jadi apa, organiknya juga bisa diolah," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin di Kantor Walikota Jakarta Timur, Rabu.
Munjirin menyebut, pihaknya akan rutin menggelar Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penanganan Sampah sebagai bagian dari evaluasi berkala untuk memantau perkembangan penanganan sampah di 10 kecamatan.
Monev akan dilakukan secara rutin setiap dua minggu sekali sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mengendalikan persoalan sampah di tingkat wilayah. Dari hasil evaluasi terbaru, sejumlah kecamatan disebut telah menunjukkan progres positif.
"Ini adalah Monev kesekian kalinya karena Jakarta Timur sudah berangkat jauh-jauh hari. Setiap dua minggu sekali kita mengadakan Monev, dan tadi semua camat sudah memaparkan dan sudah mulai ada hasilnya," ujar Munjirin.
Menurutnya, capaian tersebut salah satunya terlihat dari kinerja Pusat Daur Ulang Plastik (PDUP) Ciracas yang menjadi salah satu indikator keberhasilan pengelolaan sampah, khususnya dalam pengiriman sampah anorganik dari wilayah.
Meski demikian, Munjirin kembali menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga. Dia meminta seluruh warga untuk mulai membiasakan diri memilah sampah organik dan anorganik.
"Saya tekankan agar seluruh warga masyarakat sudah harus mulai, tidak ada kata lain, sudah harus mulai memilah sampah dari rumah masing-masing," ucap Munjirin.
Selain itu, Munjirin juga menyoroti pentingnya pengawasan berbasis data, di mana setiap wilayah memiliki catatan tonase produksi sampah yang akan terus dimonitor secara berkala.
"Jadi evaluasi nantinya dilakukan setiap dua pekan untuk memastikan adanya penurunan volume sampah secara signifikan di tiap wilayah.
Pengurangan sampah menjadi target utama, mengingat keterbatasan kapasitas pengelolaan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang ke depan hanya akan menerima residu.
"Target kita semaksimal mungkin karena keterbatasan bulan Agustus ya. Bantar Gebang itu hanya menerima residu saja. Jadi masih harus kita upayakan nanti maksimal di Jakarta Timur," jelas Munjirin.
Munjirin menargetkan adanya penurunan signifikan volume sampah yang masuk ke TPST Bantar Gebang, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju budaya hidup lebih ramah lingkungan.
Tiga komitmen
Dalam kegiatan tersebut, para lurah dan camat juga menandatangani tiga poin komitmen utama, yaitu:
1. Menggerakkan dan mengajak seluruh masyarakat untuk menerapkan pola hidup minim sampah, termasuk pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.
2. Melaksanakan langkah strategis pengurangan timbulan sampah melalui edukasi dan sosialisasi berkelanjutan kepada warga mengenai pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah.
3. Menurunkan timbulan sampah secara signifikan berdasarkan data tahun 2026 serta melaporkan perkembangan setiap dua minggu kepada Wali Kota Administrasi Jakarta Timur.
Baca juga: Pemkot Jaktim lanjutkan uji emisi gratis dukung program langit biru
Baca juga: Jaktim tindak tegas aktivitas galian tak berizin yang rusak tata kota
Baca juga: Cegah kecelakaan, Pemkot Jaktim perketat pengawasan jalan berlubang
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·